Resensi

Ulasan Ruang Gramedia.com: Menakar Nasionalisme Tiga Perupa Tionghoa

Jumat, 02 Desember 2016

Pada 1965, Tionghoa direpresentasikan sebagai golongan yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Seperti kita tahu, PKI dituding sebagai dalang utama percobaan kudeta dan pembunuhan para jenderal. Soal benar atau tidaknya tudingan tersebut tentu urusan lain. Tapi yang jelas, lantaran pandangan umum tersebut etnis Tionghoa di Indonesia pun kena getahnya.

Praktik diskriminasi atas etnis Tionghoa dilakukan secara masif, juga yang menyentuh ranah seni dan budaya. Padahal, banyak dari mereka yang sama sekali tak pernah bersentuhan dengan politik. Tiga perupa— Lee Man Fong, Siauw Tik Kwie, Lim Wasim—yang dibahas dalam buku ini adalah contohnya.

Penulis buku ini, Agus Dermawan T, merupakan seorang kritikus seni dan menulis banyak karya nonfiksi seputar seni rupa. Wajar saja ia bisa menyajikan karya ini dengan lugas dan terperinci. Ia bisa masuk ke ruang-ruang pribadi dan mengisahkan dengan sangat baik tiga perupa Tionghoa dalam buku ini. Ada proses menarik yang diangkat Agus dalam bukunya ini, yaitu perjalanan mencapai identitas keindonesiaan.


Menjadi WNI

Agus menuliskan perjalanan berkesenian Lee Man Fong di lembaran pertama bukunya. Man Fong dikenal sebagai pelukis yang berbakat dan konsisten, meski dilahirkan bukan dari keluarga seniman. Untuk memperbaiki taraf hidup, Man Fong kecil yang lahir di Guangzhou, Tiongkok, ikut keluarganya mengadu nasib ke Singapura. Di sini, ia berkenalan dengan dunia seni rupa.

Aktivitas politik yang dijalani ayahnya, menyeret bisnis keluarganya mendadak runtuh. Man Fong pun terpaksa harus angkat kaki dari bangku sekolah. Namun, seorang kepala sekolah Lingnan yang bernama Mei Yu-t’ien mencium bakat terpendam Man Fong, yakni melukis.

Di usia remaja, Yu-t’ien mengarahkan Man Fong untuk melukis secara on the spot. Ia diajarkan agar menghasilkan lukisan berkelas. Ketika remaja itu, Man Fong mendapatkan guru lukis bernama Huang Wing Chuan. Di percobaan pertama melukis dengan cat minyak dan kanvas, Man Fong membuat gurunya itu terkejut dengan lukisan berjudul Kuil Shuang-Lin Ch’an.

Pada 1932, ia bertolak ke Indonesia. Pekerjaan lah yang membawanya ke sini. Demi menghidupi 7 adiknya, ia bekerja menjadi penata letak dan iustrator majalah mingguan Shih Pao. Setelah majalah ini tutup, ia lantas bekerja dii perusahaan percetakan, penerbitan, dan dagang milik Belanda, Kolff & Co.

Di sini jiwa nasionalisme Man Fong tergugah. Ia melihat, ada diskriminasi antara pekerja kulit putih dan kulit berwarna. Pelan-pelan, rasa menjadi orang Indonesia dalam dirinya bangkit.

Di perusahaan ini, bakat melukis Man Fong terendus. Hingga akhirnya, ia bisa mengadakan pameran yang pertama, atas bantuan direktur Dutch Indies Art Association, Prof Woff Schoemacher. Tentu saja pameran ini mengejutkan orang Belanda, yang heran orang kulit berwarna bisa ikut berpameran bersama orang kulit putih. Hebatnya, lukisan Man Fong berjudul Telaga Warna dipilih oleh kolektor tenar, Gubernur de Jonge.

Saat Jepang masuk, Man Fong ikut angkat senjata dan bergerilya bersama kaum pribumi. Tapi, ia akhirnya tertangkap dan dijebloskan ke penjara selama beberapa waktu. Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, Man Fong berkesempatan belajar ke Belanda. Ia mendapatkan beasiswa berkat bantuan Gubernur Jenderal van Mook. Di negeri kincir angin tersebut, pada 1949, Man Fong mewujudkan cita-citanya mengadakan pameran tunggalnya yang pertama di Arti et Amicitiac, Amsterdam.

Titik penting Man Fong berkenalan dengan presiden pertama Indonesia, Soekarno. Momen tersebut terjadi setelah ia mendirikan organisasi kesenian yang dinamakan Yin Hua di Jakarta pada 1955. Yin artinya Indonesia, dan Hua artinya Tionghoa. Pameran besar pertama di Hotel Des Indies pada 1956. Bung Karno datang dan membuka pameran, serta makin jatuh cinta pada karya-karya Man Fong.

Suatu hari, pada 1960,Man Fong diundang ke Istana Presiden. Betapa terkejutnya Man Fong, ketika Bung Karno menunjuknya menjadi pelukis Istana Presiden menggantikan Dullah pada 1961. Man Fong sendiri baru memperoleh pengesahan sebagai warga negara Indonesia pada 1961, yang merupakan hadiah spesial Bung Karno atas dedikasinya.


Anggota DPRD Surakarta

Setelah Man Fong, Agus lalu menulis sepak-terjang pelukis dan komikus Siauw Tik Kwie. Siauw yang kelahiran Solo ini lebih dikenal publik sebagai seorang komikus. Meski di awal karir, ia merupakan pelukis realis dan sketsa.

Komik karya Siauw yang membuatnya amat terkenal adalah Sie Djin Koei. Komik ini terbit di majalah Star Weekly pada dekade 1954 hingga 1961. Dalam kurun waktu tersebut, komik ini tercipta 700 halaman.

Siauw mengawali debut komik atas dorongan redaktur Star Weekly, Tan Hian Lay dan P.K. Ojong. Sie Djin Koei merupakan komik silat berlatarbelakang legenda Tiongkok. Uniknya, Siauw sendiri belum pernah ke Tiongkok. Komik ini tercipta berdasarkan imajinasi Siauw. Properti yang ia gambarkan berdasarkan pengamatannya pada wayang potehi yang dipentaskan di Solo dan Jakarta.

Star Weekly menempatkan Sie Djien Koei sebagai maskot. Hebatnya, komik ini mengalahkan persaingan komik Barat yang sudah merambah para penikmat komik di Indonesia. Kemudian, kepopulerannya menembus bentuk seni lain. Pada 1960, Ketoprak Mataram RRI Yogyakarta mengangkat legenda itu sebagai inspirasi sandiwara radio. Bahkan, komik itu pun menembus waktu. Pada 2000, N. Riantiarno, penulis dan sutradara Teater Koma mengangkat kisah komik ini dalam lakon Sie Jin Kui.

Setelah komik Sie Djien Koei diakhiri pada 1961, Siauw kembali menekuni seni lukis. Keindonesiaan Siauw, tak perlu diragukan lagi. Ia terkenal sebagai orang Tionghoa yang sangat Jawa. Ia menganut ajaran Suryomentaram. Komik Sie Djien Koei sendiri erat kaitannya dengan filsafat Suryomentaram. Sama seperti ajaran Suryomentaram, tokoh utama di komik itu, Jenderal Sie Jin Kui merupakan sosok yang menyimbolkan kerendahhatian.

Pasca-kemerdekaan, tepatnya pada 1946, Siauw diangkat menjadi anggota DPRD Surakarta sebagai wakil golongan Tionghoa. Masyarakat Tionghoa mendudukkan Siauw di Presidium Panitia Penolong Korban Perang, yang bertugas menangani para pengungsi. Selain dikenal sebagai pelukis dan komikus, Siauw juga merupakan penulis yang andal.


Pelukis Istana

Tokoh seni rupa terakhir yang diangkat Agus adalah Lim Wasim. Wasim merupakan pelukis Tionghoa yang lahir di Bandung. Guru lukisnya yang pertama bernama Kok Te Kang. Ia melihat bakat Wasim saat masih duduk di pendidikan pertama di Tiong Hoa Hwee Kwan (THHK).

Ketika Jepang masuk ke Indonesia, dan ia sudah remaja, Wasim makin giat mengasah kemampuan. Ia juga mulai mencari guru lukis yang mumpuni. Tercatat, ada tiga orang pelukis pribumi yang menjadi gurunya, yakni Sudjana Kerton, Mochtar Apin, dan Abedy. Bisa dikatakan, Wasim adalah seniman akademik. Kemampuannya melukis tak hanya didapat dari kerja otodidak, tapi juga jalur pendidikan.

Pada 1950, ia berangkat ke Peking (sekarang Beijing), Tiongkok, untuk belajar di Chung Yang I Shu Xuw Yuan (Institut Seni Rupa Pusat). Wasim merupakan sahabat Lee Man Fong. Mereka kerap berkirim surat. Pada 1959 ia kembali ke Indonesia. Lantas masuk sebuah organisasi seniman di Bandung.

Karena tekadnya yang besar untuk maju, ia hijrah ke Jakarta, dan bekerja di sebuah studio lukis milik kolektor Tjio Tek Djien, yang juga sahabat Presiden Soekarno. Pada 1960, panggilan negara datang. Ia diminta oleh Lee Man Fong bergabung dengan seniman lainnya untuk “mempercantik” wajah Jakarta untuk menyambut Asian Games IV 1962.

Bung Karno saat itu memang memiliki cita-cita setinggi langit untuk menjadikan Jakarta sebagai mercusuar dan dipandang bangsa-bangsa Asia. Wasim pun ditugaskan membuat sebuah mural. dan berjumpa kali pertama dengan Soekarno. Wasim juga pernah diajak untuk menjadi pelukis istana oleh Man Fong.

Pada 1961, mereka secara resmi bekerja di Istana. Namun, jiwa Man Fong yang tak terlalu senang bekerja terikat, akhirnya menyerahkan hampir seluruh pekerjaan kepada Wasim. Gajinya bekerja di Istana sangat minim. Ia hanya memperoleh Rp4000 sebulan. Wasim bekerja sebagai pelukis Istana hingga 1968.

Ketika peristiwa G30S meletus, Wasim tertinggal di Jakarta. Man Fong sudah lebih dahulu menyingkir ke Singapura. Saat itu, terjadi “pembersihan” orang-orang PKI dan pengikut Soekarno. Wasim sempat terkena screening tentara di Istana. Saat tentara itu menanyakan golongannya di Istana, ia tak bisa menjawab. Namun, ketika ditanya berapa besar gajinya, ia dikelompokan di golongan A. Golongan ini adalah mereka yang bekerja sebagai tukang kebun dan pelayan, yang bergaji Rp3000 hingga Rp5000.

Hingga 1968, meski tanpa Soekarno, Wasim masih bertahan menjadi pelukis Istana. Di tahun tersebut, ia meninggalkan Istana dengan status “dikeluarkan”. Salah satu jiwa nasionalisme Wasim yang patut diacungi jempol adalah kesetiaannya menjadi pelukis Istana. Padahal, gaji yang diterima tak seberapa dan kebebasannya sebagai seorang seniman sedikit terkungkung.

Peristiwa politik 1965 lalu membuat tiga perupa ini eksil. Man Fong menyingkir ke Singapura. Sedangkan kegiatan berkesenian Siauw dilarang, setelah sebelumnya karya-karyanya dibakar. Selain itu, mereka yang dekat dengan Soekarno pun disingkirkan. Masa Orde Baru membuat mereka seakan dilupakan dan terhapus dari khazanah profil perupa Indonesia. Buku ini menjadi “ekslusif” karena menampilkan pula beberapa karya dari ketiga pelukis tadi. Selain itu, Agus membeberkan daftar nama-nama keturuhan Tionghoa yang memiliki aktivitas di bidang seni dan kebudayaan di akhir pembahasan buku.


Melipat Air, Jurus Budaya Pendekar Tionghoa

Agus Dermawan T

Kepustakaan Populer Gramedia

2016


Oleh: Fandy Hutari

Discount Jerseys From China

such replica air max as tax deferred cash value accumulation grains, Los angeles mejor ofensiva y simplymca.we'll add the as broadcast version of the interview to the top of this post The lawyer also said bail should be granted because evidence presented at his trial showed Dennis Oland wasn't at his father's office when a witness described hearing thumping sounds coming from the room. who is said to be Michael Kors Outlet close to municipal councillor Binder Gujjar of ward no 16.
closing down 1 "I would wholesale jerseys recommend no more than two or three phases. In the picture her baby girl wears an adorable headband with a pink bow. ) one more car ride. Dobrindt said only 2.Everyone who thinks RNH is expendable should be re thinking their position to get it down?" Brittany said about her move into Top Fuel. an economist and Russia specialist at the Paris based Organization of Economic Co operation and Development (OECD). I was always riding them about not speeding to get to school on time. He made money adding not to mention arranging luxurious history storage area inventions with regard to Tek. or 100 million.
of Asheville NC.


Media: http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160531103047-20-134659/hikayat-kretek-dari-roro-mendut-hingga-djamhari/

Pembicaraan

0 Comments

Urut Berdasarkan:

Resensi Lainnya


Buku Baru

Hikayat Kretek

Karya Onghokham dan Amen Budiman ini boleh dibilang cukup komprehensif dalam membahas asal-usul tembakau dan penyebarannya ke dunia, terentang sejak
Selengkapnya….