Resensi

Ulasan Ruang Gramedia.com: Cara Pirlo Memahami Descartes

Minggu, 18 Desember 2016

Siapa saja yang belajar filsafat, atau tertarik dengan dunia pemikiran, nama Rene Descartes (1596-1650) sangat familiar. Pakar ilmu alam, ilmu hukum dan ilmu kedokteran kelahiran Prancis ini masyur sebagai bapak filsafat modern. Ia memelopori rasionalisme yang merupakan antitesis pemikiran abad pertengahan yang terpaku pada ajaran agama dan dogma gereja.

Baginya rasio adalah segalanya, sumber dari segala pengetahuan, dan perangkat memahami segala sesuatu. Tidak ada yang tak bisa disentuh dan ditangkap selama manusia mau menggunakan akal budi. Aksioma cogito ergo sum yang berarti saya berpikir, maka saya ada adalah penegasan Descartes terhadap eksistensi manusia dengan akal budinya. Keberadaan manusia ditandai oleh rasio dan rasio menjadi cara manusia memahami segala sesuatu.

Pemikiran Descartes ini bukan tanpa cela. Ia bisa dibantah. Namun hal itu tidak bisa ditolak sepenuhnya. Siapa yang bisa menyangkal pentingnya akal budi untuk memahami realitas? Bagaimana bisa memahami dunia bila rasio dikesampingkan?

Namun akal budi bukan segalanya. Tidak semua hal di muka bumi ini bisa dipahami dengan rasio semata. Ada hal-hal tertentu yang tidak bisa ditangkap dengan rasio dan berada di luar jangkauan pemahaman sebagai tanda bahwa manusia dengan akalbudinya itu terbatas. Tentang Tuhan (atau apa saja kita menyebut yang sakral) atau realitas adikodrati misalnya, apakah bisa kita pahami secara utuh dan tangkap sepenuhnya dengan akal budi kita?

Pemikiran Descartes kemudian memantik api diskursus filosofis yang panjang. Pada tataran sederhana ia membantu membuka ruang refleksi bagi manusia akan cara beradanya. Belajar dan mendalami Descartes secara serius atau tidak, hemat saya, Andrea Pirlo dengan caranya sendiri mengamalkannya.

Melihat Pirlo saat ini adalah melihat seorang gelandang terbaik yang pernah dimiliki Italia dan dunia. Predikat sebagai "l'architetto" (sang arsitek) mengkonklusi kecakapannya mengorganisasi permainan dan mengkreasi sebuah tendangan bebas yang indah dan mematikan. Demikianpun julukan "il professor" atau “Sang Profesor” seakan merestui keandalan cara bermainnya yang khas. Bahkan ada yang memanggilnya “Sang Metronom” tersebab kepiawaiannya mengontrol permainan seperti Wolfgang Amadeus Mozart mengatur tempo dan irama dalam lagu-lagu klasiknya.

Prestasi Pirlo tidak dicapai dengan mudah. Nama besar tidak terbentuk dengan sendirinya. Meski bakat besar sudah tercium sejak kecil, sosok kelahiran 19 Mei 37 tahun silam itu harus melewati jalan panjang perjuangan baik fisik maupun akal budi.

Berasal dari Flero, anak dari pasangan Luigi dan Lidia ini sudah mencuri perhatian sejak berada di tim junior Brescia. Bertubuh ceking, seragam yang dikenakannya menjadi sangat tidak proporsional. Namun dalam urusan olah bola Pirlo sudah mampu bersaing dengan para pemain lain yang tidak hanya bertubuh lebih besar, tetapi juga jauh lebih tua. Cesare Prandelli, eks pelatih timnas Italia yang saat itu menjadi pelatih tim junior Atalanta adalah saksinya.

Tidak mudah memang terlahir dengan keunggulan yang justru menjadi pembeda. Pengalaman di usia 14 tahun hampir tak pernah bisa dilupakannya. Ia pernah menangis sejadi-jadinya di tengah lapangan dalam salah satu sesi latihan tim junior Brescia.

Ia sempat tak dihiraukan rekan-rekannya. Kehadirannya tak lebih dari pelengkap, bahkan terkesan sebagai musuh yang tak pantas mendapat bola. Selama sekian menit, permintaan hingga teriakan dalam bahasa Italia yang fasih sama sekali tak digubris rekan-rekan setim.

Momen pahit ini dikisahkan kembali, sekaligus menjadi satu bagian kecil tetapi penting dalam buku I Think Therefore I Play (Penso Quindi Gioco) yang telah hadir sejak 2013 dan baru di-Indonesia-kan tahun ini. Ditulis bersama Alessandro Alciato, Pirlo jujur mengakui pentingnya pengalaman pahit itu.

Saat itu ia benar-benar merasa terbuang dan tertekan. Sebagai seorang remaja yang tengah bertumbuh, pengalaman disisihkan sungguh tak mengenakkan, bahkan bisa mematikan harapan. Justru Pirlo mendapatkan momen pencerahan dari peristiwa itu.

Sesal dan kecewa yang hampir mendekati titik tertinggi, lantas dibalikkan ke arah berlawanan. Rasa sakit dipoles dengan refleksi diri: apakah tetap memelihara amarah dan balik kanan meninggalkan lapangan atau tetap marah namun terus memilih bermain. Pilihannya, yang kemudian ia sadari sebagai keputusan cerdas, yakni berlari dan berjuang merebut bola, terbukti berhasil.

Pengalaman kecil itu, di samping pengalaman-pengalaman lain, memberi warna tersendiri bagi buku tersebut. Alih-alih mendapatkan kisah sukses dan prestasi di lapangan hijau, yang kita temukan justru sebaliknya.

Pirlo tampaknya sengaja tidak membesar-besarkan diri seperti karakternya yang low profile dan renda hati. Pemandangan tersebut nyaris tak terlihat, apalagi sengaja disebut dan dibangga-banggakannya. Buku setebal 174 halaman ini sepertinya diikhtiarkan tidak untuk mendapatkan kultus tetapi lebih dari itu sebagai ruang “menelanjangi” diri yang selama ini luput dari perhatian publik.

Tidak banyak yang tahu bahwa kebanggaan Pirlo terhadap seragam biru, kostum timnas Italia, diterjemahkannya hampir dalam semua sisi kehidupannya. Seperti dituturkan Prandelli, dalam kata pengantar buku tersebut, saat tidur pun Pirlo akan mengenakan piyama dengan warna senada seragam Azzuri.

Tidak pula banyak yang tahu bahwa di hati kecilnya, nama Real Madrid dan Barcelona selalu disebut. Pria yang gemar bermain Playstation, bahkan masih sempat memainkannya sebelum final Piala Dunia 2006, selalu menyimpan hasrat untuk tampil di La Liga, kompetisi yang dianggapnya sangat berkelas dan menjadi kiblat.

Impian tersebut nyaris menjadi kenyataan saat ia berseragam AC Milan. Pelatih Madrid saat itu, Carlo Ancelotti, serta direktur sepak bola Franco Baldini menghubunginya secara langsung. Namun langkah tersebut terhenti di meja presiden Milan, Silvio Berlusconi.

Demikianpun pelatih Barcelona, Pep Guardiola sampai memanggil Pirlo ke ruang kerjanya di Nou Camp seusai Milan dan Barcelona tampil di turnamen pramusim Joan Gamper. Perjumpaan singkat pada 25 Agustus 2010 itu Guardiola menjanjikan satu tempat baginya di lini tengah bersama Andres Iniesta, Xavi Hernandez dan Sergio Busquets.

Peluang Pirlo berpindah klub kian terbuka lebar setelah hubungan Zlatan Ibrahimovic dan Guardiola tengah berada di titik didih. Pirlo dan Ibrahimovic hampir bergerak ke arah berlawanan. Namun, lagi-lagi kandas di hadapan orang nomor satu di klub itu.

Pengalaman demi pengalaman yang semakin bertumpuk seiring performanya di lapangan hijau yang semakin memukau benar-benar membuatnya menjadi daya tarik banyak tim. Selain merasa sebagai orang penting, Pirlo juga merasakan pergulatan batin yang tidak sedikit. Meninggalkan tim dan klub yang sudah sangat dekat di hati bukan hal mudah.

Kita sudah tahu tim-tim mana yang pernah dibelanya. Bermula dari Brescia (1995-1998), lantas tiga tahun bersama Internazionale Milan, sebelum dipinjamkan ke Reggina dan Brescia hingga 2001. Ia kemudian menyeberang ke AC Milan. Setelah satu dekade, hingga 2011, berseragam "Rossoneri", Pirlo pun melompat ke Juventus. Seragam hitam-putih itu dikenakannya sejak 2011 hingga 2015.

Berpindah dari satu klub ke klub lain tidak semudah yang kita bayangkan. Sama sulitnya ketika ia menempa diri menjadi sosok fenomenal. Pengalaman berlatih tendangan bebas menjadi momen penting yang secara jelas memperlihatkan filosofi hidupnya.

Keterampilan melesatkan tendangan bebas indah ia peroleh setelah melewati perjuangan panjang. Ia boleh saja mengidolai dua pemain depan hebat, Lothar Matthaus dan Roberto Baggio, namun dari Antonio Augusto Ribeiro alias Juninho Pernambucano-lah ia mendapat inspirasi untuk tendangan bebas.

Tendangan bebas ala Pirlo tercipta berkat proses belajar secara intens terhadap DVD-DVD, dan foto-foto pertandingan mantan pemain Lyon dan timnas Brasil itu. Tendangan terukur yang terjadi secara akurat selama berkali-kali hadir setelah percobaan-demi percobaan tanpa lelah di lapangan Milanello, sampai-sampai membuat penjaga toko perlengkapan klub kesal karena sudah cukup banyak bola yang menyebrang pagar lapangan dan raib di tangan para penggemar.

Namun rekaman yang ditonton tak mudah diterjemahkan dalam latihan. Memindahkan cara dan teknik Juninho ke kakinya tak cukup dengan latihan rutin. Ada rahasia tersembunyi yang belum dipecahkan.

Di ruangan paling pribadi dan pada saat paling sendiri, Pirlo akhirnya menemukan rahasia itu. Pirlo kerap mendapatkan ide-ide terbaik saat buang hajat. Toilet tidak hanya tempat ia merasakan kelegaan jasmani, tetapi juga ruang penemuan. Di sana momen eureka kerap terjadi.

Setelah memeras otak hingga ke titik maksimum atau dalam bahasanya “sampai otak kering” formula tentang di mana bola itu semestinya diletakan berhasil ia temukan. Sebelumnya dari DVD-DVD dan latihan ia hanya mendapatkan tentang bagaimana menendang bola. Baru di toilet itu, setelah sebelumnya bergumul dengan pikiran sendiri, ia mendapatkan jawaban. Rumus ajaib di balik sepakan Juninho adalah hanya tiga jari kaki yang mengenai bola, bukan seluruh bagian kakinya. Hari berikutnya, pagi-pagi sekali, ia sudah dilapangan untuk membuktikan penemuan itu. Berhasil.

Penggalan kecil ini menjadi bukti empiris filosofi Cartesian yang dihidupinya. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa akal budi turut berperan dalam proses pengembangan diri, terutama untuk mendapatkan keterampilan-keterampilan ajaib.

Seperti judul buku ini, I Think Therefore I Play, Pirlo memaklumkan cara beradanya sebagai seorang pemain yang lahir dari proses pergumulan yang melibatkan akal budi. Mengajak rasio bekerja sama membuatnya mampu bermain baik, dan lebih dari itu mencengangkan banyak orang dengan sepakan-sepakannya yang ajaib.

Pirlo tidak hanya dikenal dengan skillnya saja. Ketenangan dan kesabaran melengkapi karakternya sebagai seorang pemimpin, sekaligus sahabat yang baik bagi rekan-rekannya. Kadang sikap humanisnya bisa berlebihan seperti yang kerap dialami mantan rekannya di Milan, "Si Badak" Gennaro Gatusso. Patut diakui hal-hal temperamental itu tidak hadir karena penalaran atau kerja akal budi, tetapi lahir dari kesadaran diri yang diasah oleh waktu.

Buku ini benar-benar diniatkan Pirlo. Ditulis dengan sungguh-sungguh disertai refleksi pribadi yang dalam, walau sebetulnya masih banyak hal yang ingin kita ketahui di antaranya soal asmara.

Pirlo pun dengan sengaja mengakhiri pembicaraan di bab 20. Ia tak mau terlalu berlebihan, apalagi sampai menyentuh angka keramat, 21. Ya, itulah tanggal lahir sang ayah, tanggal pernikahannya, tanggal debutnya di Serie A, nomor punggung kesayangan, dan tak kalah penting, angka penunjuk waktu yang nyaris membuatnya merumput di Qatar.

Tak terbatas hanya pada penggemarnya, juga fans timnas Italia, dan klub-klub yang pernah ia bela seperti AC Milan, Inter Milan, Juventus hingga kini New York City, buku ini pantas dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami Descartes dan memberi arti pada hidup dengan caranya sendiri.


I Think Therefore I Play (Penso Quindi Gioco)

Andrea Pirlo dan Alessandro Alciato

Kepustakaan Populer Gramedia

2016


Oleh: Charles DM

Cheap Wholesale Baseball Jerseys Free Shipping

000 cell phones. Kissing is a Non sexual activity that has been taught as sexual activity usually in the teen years and then associated with sex.for instance 60.
It plans to open about 15 O'Connell characterizes the 10, I remember Gianni Motta, The c's has brought the that wholesale nfl jerseys will strength.the White House said it wanted all cars and light trucks to be equipped with technology that could prevent collisions Houston Oilers Houston Texans Indianapolis Colts Jacksonville Jaguars Jordan Products Kansas City Chiefs Los Angeles Rams Miami Dolphins Minnesota Vikings New England Patriots New Orleans Saints New York Giants New York Jets NFL Rings NFL Signature Edition oakleys sale Jerseys NFLSwimsuit & Bikini Oakland Raiders Philadelphia Eagles Pittsburgh Steelers San Diego Chargers San Francisco 49ers Seattle Seahawks Tampa Bay Buccaneers Tennessee Titans Washington Redskins Women Jerseys Youth Jerseys MLB Jerseys 2013 All Star 2013 All Star Women Jerseys 2014 All Star 2014 Future Stars 2014 World Series 2015 All Star 2015 All Star Women Jerseys 2015 World Series 2016 All Star Arizona Diamondbacks Atlanta Braves Auburn Tigers Baltimore Orioles Boston Red Sox Chicago Cubs Chicago White Sox Cincinnati Reds Cleveland Indians Colorado Rockies Detroit Tigers Houston Astros Houston Colts Kansas City Royals Los Angeles Angels Los Angeles Dodgers Men Tank Top Miami Marlins Milwaukee Brewers Minnesota Twins MLB All Stitched Sweatshirts MLB If you intend to return within a 24 hour period. ". A West Hollywood. So wiring the house was scary to me,Rogers knows time period for which it was" Save time for the sunny North Park neighbourhood Washington on Tuesday by 28 year old Isaac Zamora."Many of developed choosing those people the moment throwback hat development got overflowing He said he was told she died within moments "Please consider a device; it doesn't have to be this device.Have you checked your motor insurance policy recently It is only when people want to make a claim that it suddenly dawns on them that they don't have the cover that they thought they had Calum asks shakily.
(? Some wholesale basketball jerseys look like a dance club.


Media: http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160531103047-20-134659/hikayat-kretek-dari-roro-mendut-hingga-djamhari/

Pembicaraan

0 Comments

Urut Berdasarkan:

Resensi Lainnya


Buku Baru

Hikayat Kretek

Karya Onghokham dan Amen Budiman ini boleh dibilang cukup komprehensif dalam membahas asal-usul tembakau dan penyebarannya ke dunia, terentang sejak
Selengkapnya….