Resensi

Sosok Gie yang Ketiga

Senin, 13 Februari 2017

Publik Indonesia sudah mulai memasuki sosok Gie yang ketiga. Kita tahu, sosok Gie yang pertama dikenal publik Indonesia secara massal adalah buku Catatan Seorang Demonstran (1983). Buku ini bisa dianggap yang pertama memperkenalkan Gie, setelah Gie meninggal pada 1969 dan orang mulai melupakannya. Namun, cacat besar buku Catatan Seorang Demonstran adalah bahwa sosok Gie yang jujur dan apa adanya dalam tiap catatannya sudah diedit sedemikian rupa, agar orang-orang yang masih hidup dan dicatat Gie dengan keras tidak marah atau protes dan sebagainya.

Tak terlalu mengherankan bahwa naskah buku catatan harian itu sudah ditinggalkan, tergeletak di sebuah kos, seakan tidak penting lagi. Baru sekitar 10 tahun berikutnya, nsakah itu ditemukan kembali secara tidak sengaja, lalu semacam rasa eman-eman sayang, akhirnya naskah buku diterbitkan. Publik Indonesia mengenal kembali sosok Gie dari dalam catatan Gie sendiri.

Sejak sukses besar penerbitan catatan-catatan itu, karya-karya Gie kemudian bermunculan (kembali dan lagi), baik yang berupa kumpulan artikel (Zaman Perubahan) atau kajian akademiknya (Di Bawah Lentera Merah dan Orang-orang di Simpang Kiri Jalan). Begitu juga, biografi Gie, Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani, karya John Maxwell, akhirnya diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diterbitkan Grafiti.

Dari karya-karya ini kita mengenal Gie sebagai intelektual publik pada 1960-an dengan sikap humanis yang tegas dan keberpihakan pada yang lemah dan kalah.

Pada 2005, Riri Riza mengeluarkan film Gie. Film ini termasuk satu film biografi tokoh Indonesia yang paling berhasil dan barangkali yang terbaik sejak reformasi. Yang menarik, interpretasi Riri Riza atas sosok Gie menjadi begitu sangat kuat saat diperankan Nicholas Saputra.

Namun, kecemerlangan peran Nicholas seperti yang dituturkan dalam buku Gie dan Surat-surat yang Tersembunyi ini malah dikritik oleh teman-temannya dan saudara perempuan Gie. Nicholas terlalu ganteng dan matanya kurang sipit untuk memerankan Gie yang sederhana dan pemuda Tionghoa. "Nicholas itu salah casting," kata Rudy Badil, sahabat Soe Hok-Gie.

Bahkan Jeanne Sumual, adik perempuan Gie, mengatakan, "Gie tidak cool seperti Nicholas. Ia ekspresif, suka mengobrol, dan cerewet."

Gie tidak seserius, sekaku, dan semelankolis tampang Nicholas di film Gie. Bahkan, Gie juga lucu dan kocak. Dalam satu surat kepada Nurmala Kartini (Ker) Panjaitan, Gie menulis: “Kartini yang manis, gue baca ‘Hok-gie yang manis’, langsung gue jilat tangan gue. Eee asin. Maklum, gue kan baru pulang dari Rawamangun…”

Namun, dalam urusan politik kemanusiaan, Gie memang tampak sangat serius dan selalu risau. Kepada aktivis Thung Hok Jang (3 Januari 1966), Gie menulis, “Barangkali di dunia ini ada suatu golongan masyarakat yang dari lahir sampai mati selalu ‘bernasib malang’. Golongan itu adalah golongan intelektual dalam arti sebenar-benarnya. Karena mereka berbicara dan bertindak tidak atas dasar siapa yang kuat, tetapi atas dasar APA YANG BENAR. Mereka itu terlalu baik ataupun terlalu jujur sehingga selalu menjadi mangsa permainan politis."

Sungguh masih sangat disayangkan, dari total 90 surat Gie yang selamat dan tersimpan, hanya ditampilkan tiga cuplikan suratnya dalam buku ini. Ternyata, meski Gie sudah meninggal 48 tahun yang lalu dan kita sudah berkoar-koar dengan kebebasan berpendapat, kita mesti wajib menunggu sosok Gie yang ketiga, melalu surat-suratnya.

Dari kasus surat, catatan, dan tulisan Gie, kita sadar bahwa bangsa ini ternyata masih terlalu takut pada kejujuran. Tentu, kejujuran barangkali berbeda dengan kebenaran, tapi jalan terbaik pada kebenaran adalah mutlak melalu kejujuran. Dan yang berusaha dipraktikkan Gie sepanjang umurnya yang pendek adalah laku kejujuran ini, meski tidak selalu dia benar atau perlu dibenarkan. Maka kita menunggu, sangat menantikan, penerbitan surat-surat Gie, yang entah kapan bakal diterbitkan, secara utuh apa adanya tanpa sensor dan edit seperti buku hariannya.

M. Fauzi Sukri

Koordinator Tadarus Buku di Bilik Literasi Solo


Media: SoloPos

Pembicaraan

0 Comments

Urut Berdasarkan:

Resensi Lainnya