Resensi

Sebuah Latihan Mengungkapkan Rasa

Selasa, 14 Februari 2017

Oleh Syarafina Vidyadhana

BUKU ini bukan hanya ditulis, tapi juga dirancang dan diproduksi secara khusus untuk menyambut musim hujan. Kumpulan cerita pendek ini dikemas dengan sampul tebal yang membuatnya cukup aman ditenteng.

Meski tak anti air, pembaca jadi tak perlu terlalu khawatir saat membacanya selagi berteduh di halte yang atapnya tak genah, atau ketika di perjalanan tetesan hujan mulai merembes ke dalam tas. Sampulnya yang tebal dan jahitannya yang rapi membuatnya sulit koyak, pada musim hujan maupun musim kering.

***

SELAIN pengemasan yang baik, Stories for Rainy Days yang terdiri dari 35 cerita pendek—lebih cocok disebut fragmen—ditulis dengan bahasa Inggris yang mudah dimengerti. Fragmen-fragmen dalam buku ini merupakan kilas balik para narator yang muncul saat hujan.

Narator tiap-tiap fragmen memiliki nada seragam, sehingga sulit untuk tidak dianggap tunggal. Meski begitu, topik-topik di dalam buku terbilang cukup beragam: tentang perjalanan, perpisahan, pertemuan, kaktus, susu, pai, dan lain-lain.

Fragmen A Letter to Mr. Spaceman misalnya, berisi surat yang ditulis sang narator untuk Mr. Spaceman. Di situ, ia secara terang-terangan mengungkapkan rasa terima kasihnya, “I’m writing this letter to tell you how much I thank you," dan harapannya untuk bertemu lagi dengan Mr. Spaceman, “Hey, if we ever have a chance to meet again, I’ll treat you this dark chocolate ice cream I just found lately. It tastes so good that you would cry of happiness when you eat it.”

Di sisi lain, sang narator menunjukkan keinginannya menahan diri dengan menyatakan, “This is not a love letter.” Akan tetapi, disclaimer tersebut ia langgar sendiri. Pada akhirnya ia mengungkapkan, meski sungkan, betapa Mr. Spaceman begitu berarti.

“So I won’t tell you about how you actually did make the butterflies in my tummy dance when you looked at me. And how you made my heart stop beating for few seconds when you sang my favorite tune. No, no, I won’t tell you stuff like that. But anyway, you actualy did do those stuffs to me but I won’t tell you anyway” (hlm 5).

Di bagian akhir sang narator meragukan kemampuannya menulis surat, “Sorry I can’t write a decent letter. I wish I could write nicely like what Franny wrote to Lane. But okay, whatever, hope you’ll get the message, though.”

Sikap malu-malu kucing dan ragu-ragu sang narator pada A Letter to Mr. Spaceman juga tercermin pada fragmen-fragmen lain di buku. Pada Conversations, narator ragu akan perasaannya untuk seorang pria, “Forever was a word too strong to be said. Anything could turn into promises and I didn’t want to say something that I was not sure myself” (hlm 14).

Pada You And Me Song, lagi-lagi narator menahan diri. Kali ini, ia tidak ingin berpakaian “berbeda” demi sebuah kencan. Bisa dilihat dalam kalimat, “I didn’t want to look like I thought that meeting was that special. Well, it was special. I just didn’t want him to think I made such effort” (hlm 51).

Kebanyakan fragmen ditulis lebih pendek dibandingkan sisanya. Lihatlah Solitude, yang terdiri dari dua kalimat saja. “That solitary moment you have at a crowded place, when nothing else matters, only you and your book. That is bliss” (hlm 131).

Selain Solitude, ada pula Milk, Cactus, dan Sweeter Than Solitude, yang ditulis tak kalah singkat. Seperti Solitude, fragmen-fragmen pendek di buku ini berisi ungkapan bahagia, kerinduan, dan keinginan-keinginan.

Fragmen-fragmen pendek—atau sangat pendek—membuat buku ini semakin cocok dibaca saat musim hujan. Pasalnya, di musim hujan, perhatian kita mudah teralihkan. Terkadang kita perlu bergeser tempat duduk saat berteduh, atau mengangkat jemuran, atau sekadar menaikkan suhu AC.

Untunglah kebanyakan fragmen di buku ini sangat pendek, sehingga kita dapat dengan mudah melanjutkan bacaan. Kita tak perlu membaca ulang jauh ke belakang untuk mengingat konteks. Betapa praktis!

***

NAELA tak hanya menulis fragmen, tapi juga membuat ilustrasi. Ilustrasi-ilustrasi dibuat dengan bahan dasar cat air dan bergaya Jepang. Ilustrasi bergaya Jepang secara konsisten digunakan di karya-karyanya yang lain. Contohnya, produk-produk Asobi dan buku Itadakimasu Illustrated Japanese Food Art Book.

Selain ilustrasi, musik juga memegang peranan penting dalam fragmen-fragmen Naela. Pada Flights to the Sea, narator mendengarkan lagu Flights to the Sea oleh Graham Coxon melalui iPod-nya. Saat itu, ia sedang berada di penerbangan ke “somewhere far away.”

Lagu-lagu pilihan Naela tak hanya dijadikan tempelan, tapi memiliki kaitan kuat terhadap fragmen. Seringkali, lagu-lagu tersebut justru menjadi poros fragmen.

Di Music and Thoughts terutama, kekasih sang narator mempersembahkan lagu Your Song karya Elton John kepadanya. Lagu itu kemudian menjadi asal mula fragmen. Narator menjelaskan, “Instead of saying I love you, he gave me a song that explains all those feelings he has for me. And for me it was sweeter than thousand of ‘I love you’s.”

Melalui potongan lirik-lirik tersebut, kita dapat menyelami bagaimana si narator mengalami lagu-lagu tertentu. Juga pikiran serta kenangan yang dipicunya. Lagu-lagu pilihan Naela berfungsi untuk memperkuat suasana dan membantu pembaca memahami kecemasan serta kegembiraan narator.

Terlepas dari penggunaan bahasa Inggris yang terkadang kurang tepat, buku ini mampu membuat remaja merasa terhubung.

Buku ini dapat dijadikan acuan bagi pembaca yang sedang giat-giatnya berlatih mengungkapkan, atau menyembunyikan, perasaan. Juga pembaca yang menyenangi ilustrasi bergaya Jepang dan yang sukar melalui hari tanpa musik.

Fragmen-fragmen di buku ini tidak terlalu murung, tapi juga tidak terlalu ceria. Buku ini menjadi pelengkap suasana hujan—alih-alih sebagai pengalihan—karena fragmen-fragmennya tidak membuat kita lupa akan hujan yang turun di luar.(*)


Media: https://ruang.gramedia.com

Pembicaraan

0 Comments

Urut Berdasarkan:

Resensi Lainnya