Resensi

Mengulas Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa

Sabtu, 17 Desember 2016

Buku yang berjudul Perempuan-Perempuan di Jawa Abad XVIII-XIX memuat berbagai cuplikan kisah hidup wanita perkasa yang hidup di Jawa pada masa sebelum terjadi Perang Jawa.

Mereka perkasa bukan karena kekuatan super layaknya superheroes yang sedang popular dalam film-film box office masa kini. Mereka ini manusia biasa, tetapi karakter dan kisah hidup mereka sangat jauh berbeda dengan citra yang ditampilkan setelah masa Perang Jawa, tepatnya periode kolonial.

Tentu saja buku ini bukan tentang wanita yang 3M (manak, macak, dan masak). Apalagi wanita sebagai konco wingking; dan tentu juga jauh dari frasa “di balik pria yang hebat ada sosok wanita yang kuat”.

Buku ini justru tentang wanita dengan beragam peran, di antaranya sebagai panglima perang, otak pemberontakan, dan pengatur keuangan.

Unsur ragam peran inilah yang menjadi benang merah bagaimana kisah-kisah perempuan perkasa ditampilkan. Jadi bukan sekedar dikumpulkan dan dirangkai sesuai kronologi waktu, ataupun biografi per tokoh, tetapi mereka dirangkai per-bab sesuai pembagian peran.

Ada beberapa bab dan di antaranya mencakup soal peran wanita sebagai prajurit istana, peran wanita sebagai motor dalam peperangan, serta peran wanita dalam memperjuangkan hak dan kewajibannya dalam pernikahan. Peran-peran yang tidak pernah terbayangkan akibat citra yang sudah dibangun pemerintah kolonial Belanda pasca-Perang Jawa.

Sangat menarik ketika penulis mengawali bab pertama bukunya mengenai sosok perempuan Jawa dalam sastra kolonial. Pada era kolonial, yang terjadi pasca-Perang Jawa, terdapat suatu tema umum pada karya-karya yang dihasilkan: orang Jawa sebagai bangsa terlembut di dunia!

Hal ini nampak pada karya-karya penulis Belanda pada masa itu, Heilig Indie (Hindia Suci), yakni terdapat tokoh seorang wanita ningrat, Raden Ayu, yang sengaja dimunculkan “sebagai boneka yang tersenyum simpul dan meniadakan diri sendiri". Inilah tipe perempuan elok, tetapi kepalanya "kosong”.

Belum lagi pengaruh ‘orientalisme’ yang kental, membuat berbagai tokoh wanita yang muncul dalam berbagai karya sastra itu mewujud sebagai nyai, gundik, pelacur, ronggeng, atau sejenisnya. Pokoknya tidak jauh dari khayalan negara Barat bahwa wanita-wanita timur ini memiliki tingkat sensualitas tinggi yang mampu menaklukkan moral pria-pria Barat yang luhur.

Bagian pertama, meskipun singkat, menjadi sangat penting sebab berfungsi untuk membangun landasan pemahaman bagi pembaca bahwa itulah yang terjadi di masa kolonial.

Penting bagi pembaca untuk mengetahui situasi yang dibangun dan dikondisikan oleh pemerintah kolonial sebab pada bab-bab berikutnya mereka harus bersiap untuk tercengang ketika disuguhi sosok wanita yang berbeda bagai langit dan bumi dengan “sosok Raden Ayu berkepala kosong”.

Bab kedua yang bertajuk “Sosok Perempuan dalam Wayang” mengingatkan pada kisah Dewi Drupadi dan sumpahnya untuk tidak menyanggul rambutnya sebelum keramas darah Raden Dursosono, musuh bebuyutannya.

Meskipun terkesan penuh dendam dan amarah, tidak dapat dipungkiri tekadnya yang menunjukkan keteguhan hati untuk mendapatkan kehormatannya lagi. Diperkuat lagi dengan secuplik kisah Dewi Woro Srikandi, istri Arjuna yang perkasa, mudah naik darah, sekaligus seorang pemanah ulung yang tersohor.

Dalam bab ini juga disinggung mengenai sosok perempuan Jawa prakolonialisme, yaitu Dewi Mundingsari (Pajajaran) dan Ken Dedes (Ratu Singosari). Sebagai seseorang yang berasal dari Malang atau Jawa Timur, pastinya tak asing lagi dengan tokoh yang terakhir ini.

Disebutkan bahwa Ken Dedes adalah titisan Batari Durga yang juga menjelma sebagai Dewi Uma, istri Batara Guru. Ken Dedes adalah sosok panas (disimbolkan dengan vagina yang bercahaya).

Kekuatannya mampu mengabsahkan kekuasaan sang suami, Ken Arok, meski ia berasal dari golongan rakyat jelata hingga akhirnya menjadi Raja Singosari (Tumapel).

Ternyata buku ini juga menarik garis hubungan sosok-sosok tersebut dengan Ratu Kidul. Nama yang terakhir ini sangat legendaris bagi orang Jawa. Ia merupakan titisan Dewi Uma atau Batari Durga. Beliau memiliki kekuatan untuk melindungi Mataram dan menjadi istri para raja. Terdapat suatu cuplikan yang menarik untuk disimak:

Ratu Kidul adalah dewi pelindung Kerajaan Mataram dan istri gaib para raja. Dalam Babad Tanah Jawi, Panembahan Senopati dan Sultan Agung dikisahkan berangkat dari Parangtritis menemui Sang Ratu di istana bawah laut, yang hanya dihuni roh alus dan bersetubuh dengannya. Hubungan intim dan istimewa antara raja pendiri Mataram dan Sang Ratu ini membawa kerajaan ke puncak kejayaannya pada awal abad ke-17 pada pemerintahan cucu Senopati, Sultan Agung”.

Jelaslah kesamaan peran yang dimiliki Nyi Roro Kidul dan Ken Dedes, sebagai sosok yang memberikan kekuatan dan kekuasaan bagi pria yang menikahinya.

Sosok yang berkuasa dan sangat dihormati, sampai-sampai pihak Keraton selalu mengirim sesajen. Bahkan ada juga tarian khusus (Bedoyo Ketawang dan Bedoyo Semang) yang ditampilkan untuk mengundang roh Sang Ratu Kidul.

Banyaknya kisah pewayangan nan mistis seakan menggarisbawahi dan mengingatkan pembaca akan akar tradisi dan budaya Jawa. Sosok-sosok wanita perkasa pada berbagai kisah (Jawa) menjadi dasar kuat atas klaim betapa budaya Jawa sangat hormat pada wanita; bahkan dapat menjadi representasi pandangan Jawa terhadap wanita. Kalau dalam mitos saja wanita bisa sangat perkasa, apalagi di dunia nyata!

"Kalau dalam mitos saja wanita bisa sangat perkasa, apalagi di dunia nyata!"

Pada bab selanjutnya, penulis mulai mengajak pembaca untuk menelusuri kisah hidup wanita Jawa dari dunia nyata - dunia manusia. Salah satunya adalah peranan militer wanita.

Pada abad ke-17, di Keraton Mataram ada yang namanya Korps Prajurit Estri. Terdiri dari 150 wanita muda, tugasnya selain menari, menyanyi, dan bermain musik, juga memainkan senjata. Kemudian Prajurit Estri terampil sebagai prajurit berkuda, bahkan sampai membuat heran para pejabat VOC yang melihatnya.

Prajurit Estri yang terampil berkuda dan bawa bedhil mampu mengalahkan keterampilan para prajurit laki-laki. Seragam mereka sama dengan prajuritan (bangsawan laki-laki yang bertempur).

Mereka ini bukan hanya pandai pamer keahlian, tetapi juga benar-benar andal dalam peperangan. Mereka juga ikut mempertahankan keraton ketika Inggris menyerbu (1812).

Pada era kejayaan Prajurit Estri terdapat semacam kerancuan peran yang disematkan pada masing-masing jenis kelamin. Sebab saat itu terdapat semacam tren bagi kaum adam Yogya untuk naik ke panggung, berdandan ala perempuan, dan menarikan tarian Budoyo Semang.

Apa yang disebut kerancuan peran ini sebenarnya adalah bentuk dari konsep gender stereotypeyang mungkin masih sangat tidak berbatas di Jawa pada masa itu.

Pria dan wanita dapat bertukar gender roles, laki-laki tidak harus selalu jadi prajurit, tetapi bisa jadi penari; serta sebaliknya wanita diperbolehkan berperang.

Terdapat dua nama penting ketika bicara wanita Jawa di kancah perang, yaitu Raden Ayu Yudokusumo dan Raden Ayu Serang. Keduanya adalah istri pembesar di tanah Jawa yang sepak terjangnya mampu memberikan kerusakan yang besar bagi pihak kolonial.

Raden Ayu Yudokusumo menikah dengan Bupati Yogya untuk wilayah timur. Ketika suaminya kurang berani dan sigap dalam mempertahankan kekuasaannya dari Inggris, R.A. Yudokusumo mengambil alih tongkat komando. Dirinya dikenal sebagai satu dari lima panglima kavaleri senior Diponegoro.

Begitu pula dengan R.A. Serang yang setelah pecahnya Perang Jawa, beliau dan putranya, Pangerang Serang II, bahu-membahu memimpin 500 prajurit yang berjuang di kawasan Serang-Demak.

Dalam bidang ekonomi dan keuangan, peranan wanita turut ditekankan. Ratu Kencono Wulan, permaisuri ketiga dari Sultan, berasal dari keluarga pedagang di Pasar Beringharjo.

Dirinya menggunakan kedudukannya sebagai permaisuri guna mengembangkan bakat dagangnya. Tidak heran jika Ratu Kencono Wulan meraup banyak keuntungan dengan memperjualbelikan pangkat. Uang didapat dari pemohon kaya yang ingin naik pangkat menjadi pejabat keraton, demang, atau memperoleh tanah jabatan (lungguh).

Dalam buku ini, penulis secara sekilas membandingkannya dengan sosok rakus Ibu Ti(e)n Persen (sepuluh persen) yang tak ragu meminta bagian cukup besar dari setiap proyek yang melibatkannya.

Ambisi wanita-wanita keraton ini juga tersirat tatkala mereka berusaha bersiasat sebisa mungkin agar keturunannya bertahta. Ratu Kedaton - permaisuri keturunan Madura, Ratu Mas, dan Ratu Kencono Wulan masing-masing berambisi agar anaknya ditunjuk menjadi putra mahkota.

Dalam hal pemelihara pertalian wangsa, seorang putri perempuan dapat menjadi sosok penting sebagai pemelihara dinasti ataupun sebagai sarana menjalin hubungan kekeluargaan dengan kerajaan lain di wilayah jauh.

Pada masa itu, pernikahan atau pertunangan anak dan kerabat Sultan memiliki tujuan penting guna membangun aliansi politik dengan keluarga lokal yang kuat ataupun berpotensi bermusuhan.

Terkadang mereka tidak bahagia dengan pernikahannya, tetapi jangan khawatir, banyak putri raja Jawa yang dengan tegas mampu menyuarakan ketidakpuasan akan pernikahannya dikarenakan suami tidak mampu memenuhi hak dan kewajibannya.

Raden Ayu Notodiningrat, menikah dengan Bupati Probolinggo, tidak bahagia karena suaminya suka menyiksa. Akhirnya dia mengajukan cerai kepada eyangnya, Mangkunegoro II, dengan detail yang menyinggung tidak dipercaya mengelola keuangan rumah tangga, siksaan fisik, fitnah nama baik orang tua, dan siksaan verbal.

Pada akhirnya, gugatan sang Raden Ayu berhasil dan dia mendapatkan perceraian yang diinginkannya. Kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa perempuan bangsawan bukan sekedar budak belian.

Mereka punya hak dan kedudukan tinggi di mata hukum, meskipun yang harus diingat hak ini masih berkaitan dengan status mereka. Semakin tinggi status kelahiran mereka, semakin biru darah mereka, semakin besar kesempatan mereka untuk menuntut hak dan kewajiban yang setara.

"Mereka punya hak dan kedudukan tinggi di mata hukum, meskipun yang harus diingat hak ini masih berkaitan dengan status mereka"

Pertanyaan yang mendasar adalah apa yang sebenarnya terjadi setelah Perang Jawa? Perang ini disebut-sebut sebagai titik balik peranan wanita ketika mereka semakin dilemahkan.

Dengan dibatasinya kekuasaan dan kekuatan raja dan para pangeran Jawa oleh pemerintah kolonial, maka secara otomatis arena perempuan dapat berperan lebih juga menjadi sangat terbatas.

Belum lagi adanya penjinakan budaya Jawa oleh Belanda, yakni budaya Jawa dijadikan suatu ‘budaya museum’ dengan pencitraan bangsa yang ramah dan halus. Maksudnya bangsa yang lemah dengan perempuan-perempuan sensual dan mudah dikendalikan, ayu tetapi berkepala kosong.

Lantas suatu pertanyaan besar muncul, “Apakah memudarnya secara perlahan model matriarki gaya Polinesia dalam garis keturunan perempuan dipengaruhi secara serentak oleh kolonialisme dan Islam?”. Suatu pertanyaan besar dan tentunya membutuhkan riset mendalam untuk menemukan jawabannya.

Salah seorang kawan saya sempat berucap, yang jelas setelah Perang Diponegoro muncul berbagai jenis Islam di Jawa dan Islam Sufisme mulai kehilangan popularitasnya. Padahal Islam Sufi, seperti yang dianut Pangeran Diponegoro, lebih memberikan ruang kepada wanita di bidang politik, agama, dan hukum.

"Padahal Islam Sufi, seperti yang dianut Pangeran Diponegoro, lebih memberikan ruang kepada wanita di bidang politik, agama, dan hukum"

Disebutkan bahwa perempuan Jawa diperbolehkan memiliki tanah yang cukup luas melalui hukum Islam-Jawa. Banyak di antara wanita ini yang kemudian menyumbangkan tanah dan hartanya untuk keperluan umat, antara lain pondok pusat ulama, unta kurban, hingga uang saku untuk naik haji. Suatu hal langka pasca-Perang Jawa.

Akhir kata, telah diuraikan gambaran yang mencoba menyeimbangkan citra perempuan Jawa di masa lalu. Bukan hanya sebagai obyek yang lemah seperti yang muncul dalam puisi Ronggowarsito dan beberapa serat era kolonial, tetapi sebagai perempuan-perempuan perkasa dengan berbagai peran.

Tulisan ini merupakan sumbangsih pemikiran Program Pena dari Eropa; serta merangkum konten acara Pemutaran Film Dokumenter “Biografi Peter Carey” dan Bincang Buku Perempuan-Perempuan di Jawa Abad XVIII-XIX - Jumat, 2 September 2016, di Kafe Pustaka, Perpustakaan Pusat Universitas Negeri Malang.

Oleh: Nurenzia Yannuar


Media: www.selasar.com

Pembicaraan

0 Comments

Urut Berdasarkan:

Resensi Lainnya


Buku Baru

Rebirth of Dreams

The rebirth of a dream is an endless miracle. It will always be the center of the sparkling stars. It
Selengkapnya….