Resensi

Mengenang 20 Tahun Tragedi Kemanusiaan Reformasi

Rabu, 06 Juni 2018

Novel berjudul “Laut Bercerita” ini menceritakan perjuangan para aktivis mahasiswa era orde baru hingga reformasi. Mereka diculik dan disekap selama berbulan-bulan. Sebagian diantara mereka ada yang dipulangkan dan sisanya dibunuh. Awal mula penangkapan Biru Laut (tokoh utama) dan teman-temannya adalah ketika mereka hendak melancarkan aksi tanam jagung di Blangguan, Jawa Timur pada 1993. Mereka tidak terima dengan keputusan pemerintah yang saat itu di bawah kendali Presiden Soeharto untuk menjadikan lahan jagung sebagai area latihan militer. Karena kebijakan itu terkesan sepihak dan akan menindas rakyat kecil, khususnya para petani jagung. Biru Laut dan teman-teman yang tergabung dalam organisasi Winatra dan Wirasena tiba di kampung Blangguan pada dini hari. Namun, sayangnya, belum sempat mereka melancarkan rencana, aparat yang bersenjata lengkap sudah berjaga-jaga di setiap sudut kampung. Rencana gagal. Situasi sempat tegang ketika aparat menggeledah rumah-rumah warga tempat mereka bersembunyi. Mereka terpaksa kabur melalui ladang yang menghubungkan ke sebuah jalan raya.

Rencana pun berubah. Mereka ingin mengadukan dan meminta dukungan pihak DPRD Surabaya atas tuntutan atau aksi mereka terhadap pemerintah. Namun, dalam perjalanan, setiba di terminal Bunguarsih, mereka kembali diperiksa oleh intel yang memang sedang mengintai. Di sanalah mereka kemudian ditangkap. Sebagain berhasil kabur adalah Kinan dan Daniel. Mereka yang ditangkap lalu dibawa ke sebuah markas tersembunyi. Di sana mereka disiksa, dipukuli, ditendang, dan disetrum agar mengakui siapa dalang di balik aksi penolakan yang dilakukan. Namun, karena aparat tidak menemukan fakta yang dicari, para aktivis yang terdiri dari mahasiswa di kampus Yogyakarta dan Jakarta itu dilepas dan diancam supaya tidak menceritakan penyiksaan yang dialami kepada siapa pun.

Sejak mengalami penangkapan dan penyiksaan itu, Biru Laut dan kawan-kawannya lebih berhati-hati dalam menjalankan aksinya. Mereka tetap bersemangat untuk mencapai tujuan, yakni menggulingkan pemerintah Orde Baru yang di mana negara seakan dimiliki oleh keluarga dan kroni-kroninya. Terutama menegakkan 4 pilar demokrasi. Namun, gerak-gerik mereka selalui dimata-matai oleh intel yang merupakan kaki tangan pemerintah. Alhasil, pada 13 Maret 1998 Biru Laut dan 12 teman lainnya kembali ditangkap dan disekap. Kali ini mereka mengalami penyiksaan yang lebih berat dari sebelumnya. Selama berbulan-bulan mereka disiksa secara tidak manusiawi di sebuah penjara bawah tanah. Akan tetapi, Alex, Daniel, Naratama, dan Bram dipulangkan. Mereka sendiri tidak tahu pasti alasan mereka dipulangkan. Sementara, Laut, Kinan, Gala, Julius, Narendra, Sunu, Dana, dan Widi, dibunuh dan jasadnya dibuang ke laut.

Selain mengungkap sisi kelam kemanusiaan pada era orde baru, novel ini juga diselingi kisah cinta antara Biru Laut dengan Anjani, seorang mahasiswa dari Jakarta, dan Alex dengan Asmara Jati, adik semata wayang Biru Laut. Anjani begitu terpukul dengan kehilangan Biru Laut yang hingga tahun 2000-an tak tahu bagaimana rimbanya. Sehingga ia yang dulunya sangat cantik mempesona jadi enggan merawat dirinya. Ia seakan berubah menjadi gadis jorok dan tidak normal. Namun, orang tua Biru Laut yang sesungguhnya juga mengalami depresi berat atas kehilangan anaknya, mampu mengurangi gejolak hati Anjani dengan mengadakan ritual Mingguan, yakni memasak masakan kesukaan Biru Laut dan menyediakan kursi dan meja saji untuknya di tempat makan. Seolah Biru Laut berada di sana serdang makan bersama mereka.

Novel ini sangat layak bagi mereka yang ingin mengetahui lebih jauh seperti apa tragedi kemanusiaan tahun 1998. Terutama untuk mengenang para aktivis yang menjadi tumbal tegaknya reformasi dua puluh tahun silam.


Media: Harian Bhirawa

Pembicaraan

0 Comments

Urut Berdasarkan:

Resensi Lainnya