Resensi

Kritik Atas Kedaulatan yang Digadaikan

Senin, 09 Januari 2017

Diskursus kedaulatan masyarakat sampai kini tak kunjung selesai. Bahkan semakin rumit, berbelit tertindih berbagai kepentingan politis yang semakin jauh dari harapan publik. Itulah yang dituangkan dalam buku ini. Dunia semakin menyempit bukan karena globalisasi atau ledakan penduduk, tetapi kehidupan manusia seolah dikapling-kapling urusan teknis.

Masyarakat di belahan dunia mana pun seolah tidak memiliki kebebasan. Kedaulatan dan jati diri bahkan telah direnggut berbagai macam persoalan keseharian dan kekuasaan politis. Terlebih jika seseorang telah masuk dalam birokrasi, maka etika dan moralnya sulit dikendalikan. Tujuan umum agar tercipta kehidupan tenteram dan sejahtera kalah oleh ambisi pribadi.

Buku ini menguraikan persoalan kedaulatan rakyat itu secara tajam dan radikal. Esai berjudul Rakyat Belajar Berdaulat, misalnya, mencoba mempertegas harus dimiliki rakyat. Ditampilkan contoh hidup Pramodya Ananta Toer dan Wiji Thukul. Karya dan puisi-puisi mereka menjadi gambaran nyata “tragedi” perenggutan kedaulatan oleh rezim dari rakyatnya. Pemerintah telah menggadaikan kedaulatan pada bangsa asing (hal 39). Dengan kedok investasi mereka berupaya invasi perlahan menyingkirkan rakyat dari tanah kelahiran.

Hal itu terlihat dalam kebijakan-kebijakan yang membuat kemeriahan pasar global. Segenap kebijakan dan undang-undang yang mengaturnya amat sedikit berorientasi pada kemakmuran dan kebahagiaan rakyat. UU Pertambangan, Migas, Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup nyatanya justru menggiurkan para pemodal. Pembenaran dan dalih terus saja digulirkan untuk membohongi publik agar mau menuruti keinginan elite. Musyawarah tidak pernah mencapai mufakat yang menguntungkan rakyat.

Mungkin ada benarnya jika keistimewaan yang diberikan kepada bangsa juga suatu kutukan. Sebuah bangsa besar dengan kekayaan melimpah tentu memiliki tantangan besar pula untuk menjaga. Ibarat semakin tinggi pohon tambah besar angin menerpa. Persoalan bukanlah pada seberapa kuat menahan terpaan angin, tapi rakyat bisa mengikuti arah angin sembari mempertahankan.

Salah satunya menyinergikan etika dan perilaku dengan ilmu dan nurani. Ini bukan sekadar petuah dan jawaban etis mengenai satu persoalan, tetapi harus dijalankan oleh kesadaran bersama. Etika sebenarnya juga telah diimplementasikan dengan baik oleh para tokoh sejarah, sebagai insan konkret yang lebih dulu menghuni bumi dan mengelolanya dengan baik (hal 135).

Semua itu hanya dapat ditentukan oleh nasionalisme tiap warga yang hari ini sedang diuji dengan berbagai macam masalah. Ini mulai dari antikeragaman, embargo ekonomi, ketiadaan ketahanan pangan, pun oleh kebebasan akses dunia maya. Membangun aliansi politik yang sungguh-sungguh atas dasar persatuan bangsa adalah cara agar national interest tetap terjaga. Sayang, dia kemungkinan tak pernah ada.

Buku ini akan membuka mata pembaca melihat lebih dalam jati diri bangsa. Setiap kalimat mengandung kegelisahan tentang persoalan yang harus segera diselesaikan. Kelincahan bahasa dan sudut pandang memunculkan kesadaran bahwa kita belum merdeka.


*Diresensi Muhammad Farid, Alumnus PP Miftahul Falah Kudus


Media: koran-jakarta.com

Pembicaraan

0 Comments

Urut Berdasarkan:

Resensi Lainnya