Resensi

Dua Abad Tambora, Mengenang Duka Dunia

Senin, 09 Januari 2017

10 April 2015, sekitar setahun lalu, adalah tepat 200 tahun terjadinya letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Indonesia. Letusan itu tercatat sebagai letusan paling dahsyat dalam sejarah gunung api modern. Bahkan, diperkirakan ledakan pada tahun 1815 itu empat kali lebih kuat daripada letusan Gunung Krakatau (1883). Buku berjudul 200 Tahun Tambora ini merupakan hasil liputan khusus tim Tempo untuk memperingati 200 tahun terjadinya letusan tersebut. Di dalamnya, kita tak sekadar disuguhi gambaran kawasan Gunung Tambora setelah ledakan dahsyat dua abad silam. Namun juga olahan pelbagai literaur sejarah terkait efek ledakan tersebut dari pelbagai sudut pandang.

Bagi Tambora, ledakan dahsyat itu menghilangkan sepertiga tubuhnya sendiri dan menciptakan sebuah kaldera seluas 2800 hektare, dengan garis tengah setara dengan 60 lapangan sepak bola dan kedalamannya diperkirakan mencapai 1000 meter. Letusan itu juga memuntahkan 160 kilometer kubik material abu, gas, dan batuan serta membentuk tiga kolom asap setingga 43 kilometer. Energi letusan ini setara dengan ledakan 171.500 unit bom atom. Tak pelak, dentuman besar itu terasa dan terdengar sampai jauh.

Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Jenderal Inggris di Jawa yang saat itu berada di Batavia, mengira dentuman itu sebagai tembakan meriam armada laut musuh. Ia sampai menggerakkan pasukan dari Yogyakarta ke pos-pos pantai utara. Dalam memoarnya, Memoir of the Life and Public Service of Sir Thomas Stamford Raffles (1830), Raffles menulis gambaran suasana saat itu.“Di Cirebon, erupsi terdengar lebih keras dan sering. Udara semakin gelap karena abu semakin tebal. Di Solo dan Rembang, warga merasakan bumi bergetar. Di Sumenep, terasa guncangan hebat bagai getaran meriam besar” (hlm 16).

Di sekitar Sumbawa sendiri, letusan Gunung Tambora menyebabkan bencana kelaparan selama 3-5 tahun di Sumbawa, Lombok, dan Bali sebab tanah tak bisa ditanami tanaman bahan makanan karena tercemar abu vulkanis. Yang mencengangkan, dampak letusan Tambora juga merambah ke pelbagai penjuru dunia. Mulai Asia, Eropa, hingga Amerika. Kawasan Eropa dilanda cuaca buruk. Suhu di London tercatat menyentuh angka minus 16 derajat Celsius. Di Italia dan Hungaria, salju berwarna merah sebab tercemar abu vulakanis dan menyebabkan kepanikan penduduk. Orang berduyun-duyun ke gereja memanjatkan doa.

Di Amerika Serikat, sepanjang 1816-1817 salju turun setiap bulan, bahkan di musim panas. Pantai Timur Amerika dilanda cuaca paling buruk sehingga mendorong pengungsian besar-besaran ke tempat yang lebih hangat di sebelah barat, seperti ke Indiana dan Illinois. Selain itu, cuaca buruk mengakibatkan produksi pertanian merosot dan terjadi krisis yang menyebabkan sekitar 100 bank gulung tikar. Krisis ini dikenal sebagai Panic of 1819.

Terekam dalam karya

Menariknya, letusan Tambora tak sekadar berpengaruh secara geografis. Gillen D’Arcy Wood, profesor di Illions Urbana Amerika Serikat dalam bukunya The Erruption that Changed the World mengungkapkan, letusan Tambora juga memengaruhi dunia sastra populer. Menurutnya, cuaca gelap Eropa saat itu mengilhami pengarang Inggris, Mary Shelley dalam menggarap novel terkenal Frankenstein (1818).

Di kata pengantar novel tersebut, Shelley menyebutkan kisah Frankenstein ia tulis ketika berlibur di Jenewa, Swiss tahun 1816. Adegan tokoh Frankenstein berkeliaran di malam gelap dengan panorama sudut-sudut kota dipenuhi gelandangan bergelimpangan, diperkirakan berasal dari kondisi mengenaskan di musim dingin 1816-1819. Bhill Phillips, professor sastra dari University of Barcelona Spayol, juga menyebutkan cuaca buruk yang dialami Frankenstein sebenarnya juga dialami sendiri oleh pengarangnya.

Tak hanya karya sastra, cuaca muram langit eropa juga terekam dalam lukisan. Pelukis Inggris John Constable dalam lukisannya yang dibuat tahun 1816-1817 berjudul “Weymouth Bay: Bowleaze Cove and Jordan Hill” juga dengan jelas menggambarkan bagaimana lanskap langit Eropa masa itu. Lukisan tersebut memperlihatkan awan gelap membumbung di cakrawala. Ini diyakini sebagai gambaran iklim buruk Eropa akibat letusan Gunung Tambora setahun sebelumnya. Langit gelap, hujan terus menerus, juga badai. Kondisi ini berlangsung selama beberapa tahun di Eropa. Bahkan tahun 1816 di Eropa pada masa itu dikenal sebagai tahun tanpa musim panas (year without a summer).

Buku ini mengajak kita menapak sederet catatan sejarah tentang efek letusan gunung Tambora yang memengaruhi bermacam aspek kehidupan di pelbagai belahan dunia. Olahan literatur sejarah yang dihimpun untuk menggambarkan kondisi dunia di tahun-tahun saat terjadi ledakan, membuat pengalaman membaca peristiwa alam menjadi mengesankan. Ledakan gunung Tambora tak sekadar soal gempa, abu, atau langit gelap. Tambora telah memengaruhi berbagai sendiri kehidupan. Mulai soal sosial, ekonomi, sampai kesusasteraan. Kita tersadar dengan betapa besarnya dampak yang diakibatkan letusan gunung yang ada di Pulau Sumbawa tersebut.

*Al-Mahfud, penikmat buku, dari Pati


Media: Jawa Pos

Pembicaraan

0 Comments

Urut Berdasarkan:

Resensi Lainnya