Resensi

Berkaca kepada Para Pemenang Kehidupan

Senin, 09 Januari 2017

Dalam perjalanan sejarah Indonesia modern pasca-kemerdekaan, setiap menjelang akhir tahun negeri ini bagaikan terselimuti awan gelap. Awan mendung itu menggumpal di setaip akhir tahun, khususnya karena peristiwa pada 51 tahun lalu, setelah bulan September 1965. Apa yang terjadi pasca-September 1965, dalam tiga bulan terakhir di tahun itu, menggurat wajah kolektif Indonesia sebagai bangsa berdaulat, Guratan yang bekas lukanya perih dan masalahnya tak terselesaikan hingga saat ini.

Pasca-30 September 1965, pembersihan besar-besaran atas segala unsur "komunis" kebanyakan terjadi pada Oktober hingga Desember di tahun yang sama. Tiga bulan terakhir di tahun itu menjadi bulan-bulan tergelap yang menghadirkan politik dalam wajahnya yang paling brutal: setiap orang berhadap-hadapan dengan orang lain sebagai ancaman. Atas nama pemurnian Ideologi, segala hal yang dianggap sebagai "lawan", dalam hal ini apa saja yang dicap "komunis", menjadi sah untuk dimusnahkan.

Pembunuhan massal pun segera mendapatkan legitimasinya dalam kasak-kusuk politik yang mengeksploitasi rasa takut dan rasa curiga. Politik kasak-kusuk ini telah membuat sahabat saling tikam, sanak-saudara saling mencurigai, tetangga membantai tetangga yang lain, orang menganiaya para ibu dan memisahkan dari anaknya.

"November 1965, suami Ibu Rustanti diciduk. Seminggu kemudian, aparat menggeledah rumahnya. Ibu Rus digelandang ke kantor Kodim Sragen. Anaknya yang saat itu kelas II SMP menangis sambil memegang baju ibunya: “Bu, aku nderek (ikut) ibu!” […] Ketika itulah Rus tak sanggup melupakan sorot mata anaknya, yang sambil mengayuh sepeda membuntuti truk yang membawanya pergi. Di kantor Kodim, siang-malam, para pemuda berebut memegang rotan dan menggebukinya bertubi-tubi.” Kisah nyata ini akan Anda temukan di halaman 40 buku dwi-bahasa Indonesia-Inggris Pemenang Kehidupan (Winners of Life) yang diterbitkan penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta, sekitar pertengahan 2016.

erselang beberapa halaman berikutnya, kita dapat mencermati kisah lainnya: “Suatu hari Presiden Soekarno berkunjung ke Palembang. Hartiti bertugas mengalungkan bunga. Ia takut dan gugup setengah mati. Berhari-hari tak bisa tidur. […] Pengalungan bunga kepada Soekarno berjalan lancar. Ia hanya berani melirik peci Soekarno, sama sekali tak berani memandang wajahnya.

Mulya sebagai fotografer dan Lilik H.S. sebagai pewawancara, mengisahkan kembali kepada kita pengalaman-pengalaman manusiawi yang terjadi pada tiga bulan paling brutal di pengujung 1965. Apa yang khas dari buku ini adalah cara pengalaman-pengalaman manusiawi itu dihadirkan kembali.

Pertama, pengalaman-pengalaman manusiawi yang sifatnya negatif-traumatis itu dihadirkan melalui sosok para ibu dan para mbah. Kedua, pengalaman-pengalaman teraniaya para ibu dan mbah itu tidak dihadirkan secara dramatis dalam bentuk kengerian visual naratif, melainkan dihadirkan secara bermartabat melalui pengalaman ke-ibu-an, pengalaman bertahan hidup para ibu ketika mereka berhadapan dengan beringasnya moncong kekuasaan. Ini juga sebab mengapa sebagai buku fotografi, foto para ibu dan mbah yang ada di dalamnya, ditampilkan jauh dari citra heroik yang dramatis. Dalam buku Pemenang Kehidupan ini kita akan menemukan sosok para penyitas dalam wajahnya yang sehari-hari dan manusiawi sebagai seorang perempuan yang juga seorang ibu.

Melalui wajah para ibu yang sehari-hari itu, kita seperti diajak merenung bahwa para pemenang kehidupan adalah orang-orang biasa, para ibu, yang berhasil memerdekakan diri dari jerat pengalaman negatif traumatis. Pengalaman negatif yang telah mengasingkan mereka dan mendegradasi status kemanusiaan mereka. Melalui wajah para ibu, kita seperti dibenturkan dengan fakta sederhana: para ibu yang berhasil bertahan hidup di tengah segala teror sosial-politik adalah para pemenang kehidupan yang telah membuktikan diri lebih manusiawi, lebih kuat, dan lebih bermartabat dibanding segala aparat kekuasaan yang telah menganiaya mereka.

Ronald David Laing, seorang filsuf yang juga ahli psikiatri, menyebutkan bahwa dalam setiap peristiwa teror yang traumatis, efek teror mental yang paling membekas justru menimpa para penganiaya dan penindas―lebih dari mereka yang dianiaya dan ditindas (R.D. Laing, The Divided Self: An Existential Study in Sanity and Madness, London. Penguin Books, 1969). Kebenaran pernyataan ini sungguh terlihat jika Anda membaca buku ini, ketika kita berhadapan dengan wajah para ibu, yang telah dianiaya sedemikian rupa namun tampil begitu bersahaja dan bermartabat.

Sebagai sebuah buku foto, buku ini adalah dokumentasi sejarah perjalanan Indonesia sebagai Ibu Pertiwi yang sepertinya gemar mengorbankan anak-anaknya sendiri. Buku ini juga sebuah cermin kolektif yang dapat berfungsi sebagai terapi psiko-politik, khususnya bagi para elite politik dan punggawa negeri. Sebab, setelah 51 tahun berlalu, tampaknya bangsa ini masih terjerat oleh trauma kolektif yang sama dan tak terselesaikan peristiwa 1965.



Ito Prajna Nugroho

Pengajar filsafat, alumnus program pasca sarjana dan magister filsafat STF Driyakara, Jakarta


Media: Koran TEMPO cetak

Pembicaraan

0 Comments

Urut Berdasarkan:

Resensi Lainnya