Resensi

Arie Smith, Pelukis yang Terlupakan

Kamis, 22 Desember 2016

Berbicara tentang khazanah seni lukis, Indonesia memiliki S Sudjojono, Afandi, atau Nyoman Gunarsa. Namun mungkin banyak tidak mengenal pelukis kelahiran Belanda Adrianus Wilhelmus Smith yang lebih dikenal dengan sapaan Arie Smith. Dia lahir di Zaandam, Belanda tahun 1916.

Arie Smith adalah pelukis yang lekat dengan Indonesia dan pernah menjadi “orang Jawa” selama 12 tahun di Batavia dan Bandung. Tubuh tinggi besar, kulit putih kemerahan tidak mengubah perawakannya sebagai orang Belanda. Walaupun telah hidup lama di Indonesia dan mengganti kewarganegaraan sejak 1950 (hal 1), banyak masyarakat seni tidak mengenalnya.

Lukisannya selalu menghadirkan cahaya matahari. Berbagai buku sejarah seni rupa yang ditulis sampai tahun 1990, menyebutkan nama Arie seolah hanya sebagai pelukis Hindia Belanda yang pernah tersesat dan kemudian bekerja di sebuah kampung di Bali.

Buku Seni Lukis Indonesia Baru, misalnya, sama sekali tidak menyinggung Arie Smith. Begitu juga buku Seni Lukis Jakarta Dalam Sorotan tidak menyebut namanya. Padahal dia pernah menjadi bagian dari perkembangan seni rupa Jakarta. Beruntung, buku susunan GM Sudarta Seni Lukis Bali dalam Tiga Generasi sempat menulis peran Arie dalam beberapa alinea. Di situ diceritakan bahwa pada 1960 Arie memberikan kejutan kepada seni lukis Bali lewat perkumpulan Young Artist (hal 2-3).

Buku Arie Smith: Hikayat Luar Biasa Tentara Penembak Cahaya ini dibagi menjadi delapan bab. Antara lain mengisahkan tentang Arie Smith yang sudah dilupakan. Walaupun sudah hidup dan menjadi warga Indonesia sejak 1950, tetap saja dia dianggap pelukis asing yang tersesat di Pulau Dewata.

Sejak tiba di Batavia, Arie ditempatkan pada divisi seni. Tugasnya membuat dokumen visual di belakang medan pertempuran. Arie ditempatkan di Bandung bersama belasan temannya (hal 27). Tahun 1942 Jepang menguasai Indonesia, Arie dan kawan-kawannya dijebloskan ke dalam penjara yang dibangunnya sendiri. Dia lalu dibawa ke Burma (Myanmar) sebagai romusha (hal 36-37).

Tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka. Arie dibawa ke Singapura, bukan Belanda. Di Singapura dia dimasukkan ke penampungan, sebelum dipulangkan ke Indonesia. (hal 40). Tanggal 24 Oktober-3 November Arie dan Theopile pameran di galeri Jalan Gunung Sahari 84 berjudul Opbouw-Pembangoenan. Arie hanya menampilkan gambar dan sketsa. Sementara Theo memamerkan lukisan cat air dan sedikit cat minyak. Inilah pameran pertama Arie Smith (hal 49).

Dia sering berpindah dari Batavia, Bandung, Semarang, Cirebon, dan berakhir di Bali. Di Bandung dia dekat Sutan Takdir Alisjahbana, seorang budayawan, penyair, ahli bahasa, dan tokoh Pujangga Baru (hal 55).

Pada 1960 Arie diminta Tjokorda Agung Sukawati untuk tinggal di bekas rumah Walter Spies, di Campuhan, Ubud. Arie juga mencari anak yang ingin belajar melukis. Dia bertemu Nyoman Tjakra, anak Dusun Panestanan (13). Anak-anak lain bergabung diajari melukis. Inilah “Young Artist.” Lukisan-lukisan Young Artist diam-diam merebut pasar (hal 73-77).

Arie juga bergaul dengan Anak Agung Made Djelantik, seorang dokter lulusan Universitas Gemeente, Amsterdam yang sangat mendalami seni. Selama 100 tahun berkiprah di dunia seni lukis, Arie Smith berhenti pada tanggal 23 Maret 2016 saat menghembuskan napas terakhirnya di Campuhan, Ubud. Buku ini menggambarkan Arie Smith, seorang Belanda yang menjadi warga negara Indonesia. Cinta dan jiwanya telah bersatu dengan Indonesia dan banyak mengembangkan seni lukis. Untuk mengenangnya, dibangun “Rumah Memorabilia Arie Smith” di Vila Sanggingan, Ubud.


Diresensi Zahrotul Ummah, Mahasiswa STAI Pati


Media: Koran Jakarta

Pembicaraan

0 Comments

Urut Berdasarkan:

Resensi Lainnya


Buku Baru

Rebirth of Dreams

The rebirth of a dream is an endless miracle. It will always be the center of the sparkling stars. It
Selengkapnya….