Resensi

Agama Sipil Bernama Sepak Bola

Selasa, 10 Januari 2017

Puja sepak bola adalah sebentuk agama sipil dalam jagad global saat ini. Lapangan bola adalah semacam ruang ibadah massal nan kolosal global. Jersey adalah pakaian ibadah dalam tiap menonton ritual ibadah pertandingan sepak bola. Teriakan zikir penuh dukungan pada klub kesayangan adalah aksentuasi wajib.

Buku Iswandi Syahputra ini, Pemuja Sepak Bola: Kuasa Media atas Budaya, mencoba menjelaskan fenomena global dan lokal sepak bola yang sudah mengarah pada bentuk agama sipil (civil religion). Pada mulanya, sebagai sejarah dan perjuangan pemikiran, agama sipil dicetuskan di Eropa oleh pemikir pencerahan seperti Rousseau, Locke, Kant, untuk membedakan dengan agama negara (kerajaan) yang sering begitu membelenggu keberimanan seseorang.

Melalu pemikiran agama sipil, mereka secara tidak langsung membebasan agama dari kerangkeng intervensi negara, tapi sekaligus menantang apakah agama hanya berurusan dengan ritual ibadah tanpa memiliki kekuatan sosial politik.

Namun, dalam perjalanan waktu, terutama saat berada dalam medan sistem kapitalisme global, agama sipil juga bisa diartikan sebagai kesepakatan sosial dengan segala bentuk ritualnya. Di sinilah, kemudian berbagai elemen ekonomi-budaya kapitalisme juga iku membentuk sepak bola sebagai agama sipil baru dalam sistem religi manusia modern.

Proses pembentukannya bukan dimulai dari lapangan sepak bola atau seorang pelatih yang karismatik bagaikan seorang nabi. Namun, dari percanggihan teknologi media massa.

Kita tahu, sejak sepak bola disiar-suarakan melalui radio pada dekade awal abad ke-20, sepak bola mulai memasuki ruang massal publik. Perubahan besar terjadi saat si kotak mukjizat menyebar ke seluruh dunia mulai pertengahan abad ke-20, saat negara-bangsa di Dunia Ketiga mulai merdeka dan membutuhkan propaganda kebanggaan nasionalistik melalui olahraga. Sepak bola maju yang terdepan, terbentuklah kesebelasan nasional hampir di tiap negara untuk membela dan membanggakan rakyat negara masing-masing.

Sejak saat itu, sepak bola menjadi mapan dalam kehidupan sosial masyarakat secara global. Namun, itu baru setengahnya. Setengahnya lagi adalah ulah kapitalis-politikus yang begitu sungguh paham makna kedigdayaan televisi dan kerumunan massa suporter sepak bola. Jutaan bahkan miliaran set televisi yang dihadirkan hampir secara sukarela di tiap rumah bahkan kamar dan ruang-ruang publik adalah kedigdayaan massal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, apalagi tiap negara memiliki sekian banyak klub dan tim nasional yang sudah pasti punya pendukung fanatiknya masing-masing. Jumlah total televisi secara nasional atau global menjadi arena pertarungan-pertandingan terakbar sejagat, sangat jauh melebihi sekian meter petak lapangan bola itu sendiri.

Salah satu ritual agama sipil itu adalah gol. Kejadian ini sebenarnya sesederhana hanya sebuah bola yang masuk ke dalam gawang. Namun, dalam industri sepak bola, kata Iswandi Syahputra (hal. 16), gol "adalah cara atau tahap menuju kuasa... gol akan meraih glory dan gold. Di saat yang sama, gol juga merupakan puncak kenikmatan atau orgasme kegembiraan yang dirasakan dan dirayakan secara masif."

Peristiwa gol, sering kemudian dilakoni bersama ritual keagamaan seperti sujud syukur atau menyilangkan tangan membentuk salib. Peristiwa goal menjadi pencerahan religius yang sangat melegakan hati, baik bagi pencetak goal atau penonton (di lapangan atau di depan televisi), melebihi ritual agama apa pun.

Ada juga sebentuk pakaian ibadah bersepak bola: jersey yang diagungkan. Pengagum jersey biasanya dikaitkan dengan suatu peristiwa--hampir persis sama dengan pemaknaan pakaian jubah atau barang wasiat dalam tradisi sufi Katolik atau Islam yang biasanya diwariskan dari nabi atau seorang guru pada muridnya pada murid lagi sampai seterusnya.

Jersey menjadi sakral karena nilai histori dan memuat banyak story. Story yang membentuk histori pada sebuah jersey tersebut menjadi daya pikat yang kuat bagi seorang fan fanatik sebuah klub atau koletor jersey untuk memilikinya. Dengan cara apa pun, jersey yang mengandung histori harus dimiliki. Ini persis seperti pakaian agama yang wajib diusahakan dan dipertahankan.

Salah satunya adalah jersey final Athena yang dikenakan pemain AC Milan melawan Liverpool pada laga final Liga Champions, 23 Mei 2007 di Olympic Stadium, Athena, Yunani. Jersey final Athena adalah jersey pembalasan dendam AC Milan yang dikalahkan Liverpool di Stadium Olimpiade Kemal Ataturk, Istanbul, Turki.

Banyak Milanisti yang memburunya. Seperti dikatakan Iswandi Syahputra (hal.67),”Di tubuh fan, jersey bahkan dapat menjadi senjata sekaligus sistem pertahanan budaya yang digunakan oleh pelbagai kelompok yang berbeda untuk membentuk tatanan sosial. Jersey sebagai fashion mengandung hierarki sosial, dalam mencapai, menantang, atau memelihara posisi dominasi dan supermasi.”

Tentu saja, sebagian besar kiblat agama sipil sepak bola ini adalah Eropa yang sudah menjadi komoditas internasional. Indonesia sudah menjadi komoditas internasional. Indonesia sudah mempunyai sejumlah fan klub sepak bola, seperti AIS (Arsenal Indonesia Supporter), Indonesia Manchester United (Manchester United), CISC (Chelsea Indonesia Supporter Club), Madridista Indonesia (Real Madrid), atau Big Reds (Liverpool FC). Dalam beberapa hal, komunitas ini semacam sekte keagamaan.

Maka, jika bertanya: umat agama apakah yang terbesar dan terbanyak saat ini atau tempat ibadah paling besar, massif yang riuh dan bergelora? Jawabannya, jika Anda percaya pada apa yang terjadi di sekitar kita secara global: bukan Islam, Katholik/Protestan, Yahudi, Hindu, Budha, atau agama-agama lainnya.


M. Fauzi Sukri, Koordinator Tadarus Buku di Bilik Literasi Solo.


Media: Lampung Post

Pembicaraan

0 Comments

Urut Berdasarkan:

Resensi Lainnya