Resensi

Potret Kemunafikan Manusia

Senin, 09 Januari 2017

Belum lama ini, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) menerbitkan seri sastra dunia. Salah satunya adalah kumpulan cerpen karya Anton Chekov, Pengakuan. Dua puluh lima cerpen dalam buku ini merupakan sumbangsih Chekov bagi masyarakatnya yang saat itu banyak menderita akibat polah busuk para birokrat di negaranya.

Bagi Chekov, seorang sastrawan harus mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat, terutama masyarakat yang menderita. Dan inilah yang kemudian terangkum dalam karya-karyanya.

Cerpen yang diterjemahkan dalam buku ini berasal dari periode 1880-an. Tema cerita yang dipilih terutama mengenai kemunafikan, kecenderungan untuk memanipulasi orang lain, serta praktik korupsi dan penjilatan. Inilah persoalan yang dihadapi masyarakat Rusia menjelang abad ke-20. Begitulah catatan dari Koesalah Soebagyo Toer dalam pengantarnya.

Kemunafikan manusia digambarkan Chekov dalam beberapa cerpennya. Salah satunya berjudul Munafik. Seorang pegawai rendahan di sebuah kantor pemerintahan, Ivan Kapitonich yang di lingkungan kantornya kerap bersikap layaknya seorang pendiam, bodoh, dan menimbulkan belas kasih orang. Tapi sifatnya di luar jauh dari apa yang biasa ia tampakkan di lingkungan kantornya. Suatu hari di dalam sebuah trem, Ivan Kapitonich kepergok atasannya menceracau tentang politik dan pelarangan kebebasan berpendapat.

Kemunafikan yang sama juga digambarkan dalam Pengakuan. Grigorii Kuzmich, seorang kasir yang terjebak korupsi. Dulunya ia seorang yang jujur. Pada akhirnya ia kemudian menjadi pembicaraan semua orang karena perbuatannya. Padahal mereka yang mencibir juga mendapat bagian dari hasil korupsi Grigorii.

Masih tak lepas dari tema korupsi, dalam Satu-satunya Cara Berkenaan dengan Proses Organisasi Perkreditan Petersburg, kasir kesepuluh di sebuah organisasi diangkat dan diberikan gaji tinggi. Sebelumnya sembilan orang kasir yang diangkat melakukan korupsi dan menilep uang organisasi. Salah satunya adalah Ivan Petrovich yang awalnya diangkat karena terlihat sebagai orang pendiam dan rajin beribadah. Tapi toh ia korupsi juga.

Dalam Orang Bersemangat, ada seorang Direktur Sektor Keretaapi Z-B-K yang begitu menghargai dan mencintai dunia pers. Ia pun berencana membuat sebuah tulisan yang membela pers.

Kemudian ada sebuah kasus yang mengindikasikan terjadi penyimpangan di proyek yang sedang dikerjakan oleh lembaganya. Apakah ia akan tetap mencintai pers ketika sebuah pemberitaan mengulas dugaan pelaksanaan proyek aneh di lembaganya?

Tak hanya korupsi dan kemunafikan manusia yang menjadi tema cerita dalam kumpulan buku ini. Praktik suap pada zaman lahirnya cerita-cerita ini juga menginsipirasi Chekov. Seperti di dalam cerpen Dalam Pertunjukan Hipnotis dan Perundingan.

Para penjilat yang senang dengan kekuasaan juga digambarkan dalam Kegembiraan Seorang Pemenang. Aleksei Ivanich Kozulin adalah seorang pejabat. Dulu ia seorang yang tak dihargai. Setelah ia berkuasa, semua berbalik dan ia melakukan hal yang sama kepada bawahannya. Orang-orang mendekatinya dan melakukan pencutraan di depannya agar mereka diangkat jadi pejabat.

Realisme dalam cerita-cerita Chekov mengandung unsur berbagai praktik busuk dalam pemerintahan dan dunia politik. Namun ada juga beberapa cerita yang diceritakan dengan kocak dan cerita yang memiliki optimisme yang tokohtokohnya juga orang baik. Seperti dalam cerita Tukang Kebun yang Pintar. Filipp Nikandrich, seorang tukang kebun pintar yang selalu mengingatkan orang betapa pentingnya membaca buku. Ada juga pejabat yang masih memiliki integritas dan idealisme seperti dalam Wanita-Wanita. Cerita-cerita dalam buku ini diterjemahkan langsung dari bahasa Rusia oleh Koesalah Soebagyo Toer. Kendati cerita ini ditulis Chekov sekitar 130-an tahun lalu, namun cerita-cerita dalam buku ini masih relevan dengan kondisi saat ini. (ynt)


Media: Suara NTB

Pembicaraan

0 Comments

Urut Berdasarkan:

Resensi Lainnya