Mohamad Sobary

Saat ini Sobary mengambil sikap tegas: pensiun. Ini pensiun dini, pensiun sebelum masa pensiun resmi sesuai keputusan negara itu tiba. Sebelumnya, dia peneliti bidang kebudayaan dan agama di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Selama lima setengah tahun, Maret 2000 hingga Juli 2005, memimpin Kantor Berita Nasional Antara, dia merasa dunia ini menyempit bukan karena globalisasi yang sangat “penetrating”, didukung teknologi informasi modern itu, tapi karena hidup dikapling-kapling menjadi kepingan kecil-kecil dan teknis, untuk mengurusi birokrasi, di mana manusia serakah dan ambisius terhadap jabatan, yang siap menabrak moralitas, dan etika hidup, tak terhitung banyaknya.Jeda tiga tahun, 2006-2009, selama menjadi direktur eksekutif “The Partnership for Governance Reform” dikoordinasi oleh UNDP, ada susana lebih segar, lebih kreatif. Tapi birokrasi, ya, birokrasi. Kesumpekan di dalamnya pada dasarnya serupa. Maka, dia kembali ke kerinduannya pada masa lalu, ketika baru mulai meniti karier tulis-menulis sejak sekolah lanjutan hingga masuk Universitas Indonesia, 1974. Itu zaman keemasan yang kaya akan kebebasan. Pensiun dini itu baginya kembali ke zaman keemasan itu. Tugasnya, setiap minggu, sejak tahun 2010 hingga sekarang, menulis esai-esai pembelaan terhadap para petani tembakau di Temanggung, yang oleh pemerintah SBY hendak dibunuh, dengan berbagai mekanisme yang menggiurkan, bagi yang tak tahu siapa dan agenda apa yang ada di baliknya. Tulisan-tulisan Sobary menggambarkan suara protes, sebagai penyambung strategi perlawanan petani tersebut. Sobary juga membuat penelitian ilmiah, dan tulisan mengenai perlawanan kaum tani di Temanggung itu dibingkai menjadi disertasi, sebagai wujud komitmen ilmiah dan politiknya terhadap kaum tani yang tertindas di kampungnya sendiri, oleh kebijakan pemerintahnya sendiri. Esai-esai di bawah judul Semar Gugat di Temanggung membuktikan hasil kerjanya. Esai-esai lain, dalam buku Makamkan Dirimu di Tanah Tak Dikenal, memperkukuh pemihakan itu. Dan memihak, baginya, sebuah kebajikan hidup. Memihak menjadi ibadah politik, yang membuatnya merasa hidup ini terlalu indah untuk diabaikan.