Herry Gendut Janarto

HERRY GENDUT JANARTO lahir di Yogyakarta, 28 Mei 1958. HGJ–begitu inisial dan panggilan akrabnya–melewatkan sekolah dari bangku TK hingga perguruan tinggi di kota kelahiran tercinta. Selepas dari SMA Kolese de Britto tahun 1977, HGJ, bungsu dari tujuh bersaudara, melanjutkan pendidikan di jurusan Sastra dan Bahasa Inggris, IKIP Sanata Dharma (Sadhar) dan lulus sebagai Sarjana Pendidikan tahun 1982.Pada awalnya HGJ menempuh pendidikan di Sadhar dengan satu tujuan praktis, yakni agar cepat mendapat pekerjaan, dalam hal ini menjadi guru atau pengajar. Terbukti, ia memang pernah mengajar bahasa Inggris di SMAK Stella Duce selama satu tahun (1981 – 1982). Katakanlah, itu sebagai “icip-icip” dalam ranah pengajaran dan pendidikan.Ternyata, minat dan keinginan menjadi penulislah yang kemudian lebih kental dan begitu menggebu dalam diri HGJ. Oleh karena itu, tanpa ragu dan was-was ia lantas memutuskan pindah ke Jakarta dan diterima bekerja di penerbitan buku PT Gaya Favorit Press (Femina Group) selaku editor. Rupanya dunia editing yang mengasyikkan itu tak cukup membuat dirinya merasa “sejahtera”. HGJ bermimpi ingin mendapat predikat sebagai penulis atau pengarang.Dengan semangat meledak-ledak, HGJ kemudian memberanikan diri menulis buku. Ia pun menggarap dengan tekun kisah kehidupan Teguh Srimulat—semacam biografi panggung—dengan judul Teguh Srimulat: Berpacu dalam Komedi dan Melodi (Gramedia Pustaka Utama, 1990). Itulah karya bukunya yang pertama.Tahun 1991 HGJ memutuskan untuk pindah ke Kelompok Kompas Gramedia. Di situ ia menjadi reporter di tabloid Nova selama hampir dua tahun. Selanjutnya ia lebih mencurahkan diri di dunia anak dengan beringsut pindah ke majalah anak-anak Bobo, yang masih satu pekarangan dengan Nova. Di tempat kerja baru itu, ia merasa bak menjadi anak-anak lagi. Gembira dan ceria, konon pula jenaka. Hal inilah yang menjadikan dirinya terbilang baby face, setidaknya, tampak awet muda. Sambil mengasuh Bobo, ia pun terus gencar menulis buku. Kebanyakan memang buku biografi. Di celah-celah itu, ia pula pernah membantu Tukul Arwana selama beberapa tahun selaku tim kreatif sekaligus pembisik.HGJ antara lain menulis buku Bagito: Trio Pengusaha Tawa (Grasindo, 1995); Teater Koma: Potret Tragedi dan Komedi Manusia (Indonesia) (Grasindo, 1997), Mien Uno: Menjadi Wanita Indonesia (Gramedia Pustaka Utama, 1999); Karlinah Umar Wirahadikusumah: Bukan Sekadar Istri Prajurit (Gramedia Pustaka Utama, 2000); Didik Nini Thowok: Menari Sampai Lahir Kembali (Sava Media, 2005); Umar Wirahadisukumah: Menegakkan Kebenaran dalam Diam (Pustaka Kayutangan, 2006); Suster Jacoba CB: Panggilan Suci sebagai Pendidik (Gong Grafis, 2008), dan juga Matiur M. Panggabean: Bunga Pansur dari Balige (Gramedia Pustaka Utama, 2010), serta F.X. Sri Martono: Unlocking the Hidden Talent (Gramedia Pustaka Utama, 2012).Kini HGJ hendak mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk menulis dan menulis. Ia berkeinginan besar hendak menerbitkan tidak hanya buku-buku biografi, tetapi juga karya-karya beraroma sastra, seperti novel, kumpulan cerita pendek, dan antologi puisi. Ia telah menerbitkan sebuah buku kumpulan cerita pendek Sang Presiden (Gramedia Pustaka Utama, 2003).Dalam hidup ini, HGJ memiliki sebuah semboyan cukup unik: Daripada mencelakakan atau melukai orang lain, lebih baik menertawakan kebodohan dan kekonyolan diri sendiri.