Berita

"Jalan Pulang", Sebuah Dokumentasi Perjalanan Spiritual

Jumat, 03 Februari 2017 | 1:31 pm


KOMPAS/HERU SRI KUMORO Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Ninuk Mardiana Pambudy (kiri) menerima buku Jalan Pulang dari penulisnya, Maria Hartiningsih, saat peluncuran dan bincang buku tersebut di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (2/2) sore.

"Kuterima keterbatasanku dan keberanian melangkah melampauinya. Kulanjutkan perjalananku dengan kepala tegak. Aku terus bernyanyi bersama orkestra kehidupan dan menari di dalam denyutnya, karena aku percaya pada segala kebaikan hidup."

("Jalan Pulang", Maria Hartiningsih, 2016)

Menyongsong masa purnanya bekerja secara formal sebagai jurnalis, empat tahun lalu, Maria Hartiningsih mulai menulis sebuah buku. Kali ini bukan tulisan harian yang ia kerjakan, melainkan untaian refleksi panjang perjalanan hidupnya mencecap peristiwa-peristiwa kemanusiaan.

Pada awal bukunya berjudul Jalan Pulang, peraih penghargaan Yap Thiam Hien 2003 ini menceritakan kegamangannya meninggalkan teman, sahabat, ruang, dan meja tempat ia bekerja formal. Setahun lagi, masa pensiun menghampiri.

Maria mencoba memahami kata-kata bijak Rumi, barangsiapa berani kehilangan diri, dia akan mendapatkan diri. "Saatnya mengambil jarak dalam waktu yang sudah semakin dekat. Aku memutuskan melakukan perjalanan untuk melepas. Hanya dengan melepas, aku bisa memeluk dengan bebas," tulisnya.

Teman Maria, Risa Permanadeli mengapresiasi kesediaan Maria menerima kegelisahan-kegelisahannya. "Kami, saya dan Maria, mewakili generasi yang pernah bermimpi tentang hadirnya kemajuan dan kejayaan dan akhir-akhir ini kita semua bertanya, apa benar mimpi-mimpi itu terwujud? Maria menyebut tentang peristiwa 1965 dan pemerkosaan massal 1998. Tiba-tiba semua itu menjadi sesuatu yang pantas dirawat lewat buku ini karena ini menjadi bagian dari kita," ujar Risa, Kamis (2/2), dalam acara peluncuran dan bincang buku Jalan Pulang di Bentara Budaya Jakarta.

Isu sosial

Diiringi petikan gitar Jubing Kristianto dan nyanyian Tatyana Soebianto, pemerhati pendidikan Henny Supolo mendaraskan dengan detail bagaimana pengalaman mendalamnya menikmati lembar demi lembar tulisan Maria. Membaca buku tersebut, ia membayangkan pembaca akan menangkap sesuai dengan minatnya.

Ia menerangkan, mereka yang peka dan terlibat dalam berbagai isu sosial akan mendapatkan berbagai isu dengan analisis tajam di buku ini, mulai dari peristiwa 1965, pemerkosaan massal 1998, kekuasaan negara dalam mengatur tubuh perempuan, perkawinan anak yang berkaitan erat dengan tingginya angka kematian ibu yang dipandang sebagai "takdir", perdagangan perempuan dan anak, hingga masalah dasar kemiskinan yang dilengkapi berbagai referensi penunjang meski masih disatukan dalam konteks perjalanan Maria.

Henny menangkap tulisan Maria sebagai sebuah dokumentasi perjalanan spiritual. "Mereka yang melihat buku ini sebagai metafora utuh akan menikmati setiap langkah yang diayunkan Maria dan mencari di dalam dirinya sendiri arti langkah itu," katanya.

Kasih ibu

Tulisan yang juga sangat menyentuh Henny dalam buku ini adalah kisah hubungan Maria dengan mendiang ibunya. "Apa yang dilakukan emak atau simbok sungguh menggetarkan hati. 'Aku tidur di bawah supaya kau bisa tidur di atas' adalah bagian yang bukan hanya menyentuh, tetapi menggambarkan 'laku' yang dilakoni ibunda untuk membesarkan anak-anaknya dengan rasa percaya dan kedamaian," katanya. Henny melihat Jalan Pulang Maria sebagai sebuah himpunan narasi kecil yang membentuk narasi besar bernama kemanusiaan. Dari sisi mana pun pasti punya makna pribadi dalam kehidupan kita semua.

"Saya menyarankan kita membaca buku ini saat kita bisa hening agar bisa menangkap diri kita di sana. Inilah buku yang setiap lembar halamannya membuat mata saya basah," ungkap Henny.

Jadi pengingat

Bhante Nyanabandhu melihat buku ini sebagai pengingat bagi siapa pun yang kadang lupa untuk "pulang" karena selalu sibuk melihat ke depan, lupa untuk berefleksi dan berkontemplasi karena selalu mengejar ambisi dan target.

"Ini menjadi pengingat bagi kita, mengajak kita pulang serta menunjukkan jalan bagi kita yang tak tahu jalan pulang. Buku ini menjadi peta untuk diri kita. Mbak Maria mengajak kita untuk berselancar dalam relung-relung diri karena kita selalu ingin pergi dan lupa untuk pulang," katanya.

Di akhir acara, Maria menyatakan lega karena sudah membayar "utang" kepada lembaga yang membesarkan dirinya melalui pengalaman-pengalaman perjalanan jurnalistik. "Kita sama-sama satu perjalanan. Kita kadang tidak mau diam, tidak bisa dipegang karena kesibukan," ucap Maria.

Buku Jalan Pulang mulai ditulis Maria November-Desember 2013. Setelah sempat tak disentuh selama dua tahun, ia melanjutkan penulisan Maret 2016 atau tiga bulan setelah pensiun.

Maria berkarya sebagai jurnalis harian Kompas 15 Juni 1984 hingga 12 November 2014 kemudian diperpanjang hingga 31 Desember 2015. Ia menekuni masalah kemanusiaan, demokrasi, kesetaraan dan toleransi, perdamaian, dan spiritualitas.

Pada 2003, Maria menerima penghargaan Yap Thiam Hien untuk kategori pendidik.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 3 Februari 2017, di halaman 12 dengan judul ""Jalan Pulang", Sebuah Dokumentasi Perjalanan Spiritual".


Reporter:Aloysius B Kurniawan
Media:KOMPAS Cetak

Pembicaraan

0 Comments

Urut Berdasarkan:

Berita Lainnya

Buku Terkait

Jalan Pulang

Awal dan akhir suatu perjalanan mustahil diungkapkan, tetapi begitu melangkah, tak ada kekuatan dari luar yang dapat menghentikan. Setiap langkah
Selengkapnya….

Rp 85,000